Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Thursday, 4 August 2016

Nostalgique


Pada sebuah meja kau bercerita sendiri. Entahlah, barangkali bukan meja. Masih ada jendela yang terbuka lebar, menghisap seluruh gemuruh merdu ombak dari seberang sana dan menghembuskannya lembut ke dalam telingamu. Berderu, perlahan dan membekas di hatimu. Ombak pernah jadi salah satu definisi suara semesta termerdu bagi kita, dengannya kita bercerita tentang gundah, lalu membiarkan gemuruhnya menyeret dan menghempaskan kisah pahit itu ke laut sana. Dan gundah hilang. Yang ada hanya kita, dan tawa—hambar. Tapi kepalamu menunduk, memang bukan pada jendela kau bercerita, sepertinya. Sesuatu di atas meja, tapi apa?

Ada batas bernama sekat pada jantung—segumpal daging yang apabila ia baik, maka baik pula tutur-laku pemiliknya. Tapi sabarmu tak pernah punya batas, setahuku. Atau mungkin sabarmu mampu menembus sekat-sekat jantung hingga memenuhi seluruh ruang tanpa terkecuali—bahkan akhirnya menyebar ke seluruh tubuh. Jantungmu tak punya empat bilik yang memisahkan letak sabar, yang ku tahu. Sabarmu yang terkaya dan maafmu seluas semesta raya. Tak ada penat yang bisa hilang begitu saja, aku tahu. Dan kurasa kau sudah atau tengah berusaha tegar melalui proses pemakaman penat itu sendiri. Berbicara pada sesuatu di atas meja, seperti itu. Misalnya.

Friday, 20 November 2015

Retrouvailles

Hai, bagaimana kabarmu di sana?
Hm? Di sana? Memangnya kau sedang ada di belahan bumi mana? Bumi yang mana satu? Memangnya ada berapa bumi di tata surya? Atau engkaukah yang diam bersembunyi dalam Andromeda, sengaja menjadi lebih redup agar tak terlihat dunia? Atau engkaukah itu, asap-asap bercahaya milik Magellan, berjalan pelan-pelan lalu menghambur ke dalam pelukan—Bima Sakti? Entahlah. Entah di bumi mana kau berpijak, entah di langit mana kau berkelana, semoga kau selalu dalam keadaan  berbahagia.
Iya. Bukan hanya bahagia, tapi berbahagia, agar hatimu sempurna lapangnya. Hari ini sengaja kucari arti sesungguhnya dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, agar kita tak terlalu sempit memaknai berbahagia itu.

Wednesday, 26 August 2015

Setakzim Komet



"Kamu tau, berapa lama waktu yang dibutuhkan komet untuk mengitari matahari?"

"Apa saya harus tau?"

"Harus!!"

"Jawabannya terserah kamu."

"Baiklah, saya juga nggak mau kelamaan nunggu kamu nyari di google. Seribu tahun, waktu yang dibutuhkan komet untuk mengitari matahari."

"Lantas? Apa seribu tahun komet mengelilingi matahari itu bisa mempengaruhi hidup saya? Enggak, kan?

Saturday, 17 January 2015

Pergi


"Berapa lama lagi waktu yang kita miliki?"
"Berapa lama lagi? Maksudmu?"
"Waktu untuk kita tetap bisa saling berpegangan erat.."

Sunday, 19 October 2014

Morning Rain

     "Sungguh, kau tak perlu membaca kisah ini seperti yang orang lain lakukan. Kaulah yang lebih dahulu menghafal mati semua rasa yang ada dalam kisah ini sejauh perjalanan panjang yang kau tempuh. Ini tentangmu..." Suara itu menggema memenuhi segumpal darah bernama hati. Sepertinya itu suaraku.

     Tanganku masih berusaha menutupi layar laptop di hadapanku. Begitu, selalu saja, lagi, kau ingin tahu apa yang sedang kukerjakan. 

     "Mana sih, sini. Ibu mau liat." Kau tersenyum menggodaku. Seperti biasa, aku tahu tingkat kecerdasanmu takkan pernah menua layaknya usia yang kini sedang kau tapaki. Bagaimana dengan rasa penasaranmu? Persis. Sama seperti tingkahku ketika bocah dahulu, selalu ingin tahu segala hal.

Sunday, 17 November 2013

Hujan, kau ingatkan aku...

Lagi. Tiap rintik yang jatuh menghidupkan bumi. Menghidupkan gersang hati. Menghidupkan tandusnya harapan. Tiap tetes yang tiba dibumi disambut penuh haru oleh kulit bumi, jatuh, menari dan membuat percikan-percikan harapan pada tanah. Butiran-butiran air membasahi tanah yang begitu merindukan sapa kesejukan.

...
“Putri Luna menangis di balik jendela kamarnya. Sebuah kamar istana yang megah menawan kini terasa suram dan mencekam. Lukisan langit dan ilalang di seluruh penjuru kamar nan luas tak lagi dapat menentramkan hatinya. Kicau merdu burung-burung di sekitar jendela terasa ikut dirundung kesedihan yang sama...” Suaranya lembut dan meneduhkan, terasa penuh wibawa dan kebijaksanaan. Siapa saja yang mendengarkan ia membacakan dongeng pasti akan turut terbawa suasana.