Wednesday, 26 August 2015
Setakzim Komet
"Kamu tau, berapa lama waktu yang dibutuhkan komet untuk mengitari matahari?"
"Apa saya harus tau?"
"Harus!!"
"Jawabannya terserah kamu."
"Baiklah, saya juga nggak mau kelamaan nunggu kamu nyari di google. Seribu tahun, waktu yang dibutuhkan komet untuk mengitari matahari."
"Lantas? Apa seribu tahun komet mengelilingi matahari itu bisa mempengaruhi hidup saya? Enggak, kan?
"Komet itu nggak berhenti di tengah jalan! Komet itu pergi dari titik awal, jauh-jauh mengelilingi matahari sampai tiba di titik awalnya lagi."
"Tapi komet kan nggak berhenti, kelilingnya di situ-situ aja."
"Itu namanya nerima takdir Tuhan. Di mana ia dititahkan, di situ ia berjalan. Tuhan juga yang mengendalikan orbit komet. Bayangin kalo komet sesukanya jalan-jalan ke sana ke mari, mungkin udah nubruk bumi."
"Lantas aku harus apa?"
"Jangan pernah mikir kalo kamu lelah! Tuhan menyuruhmu untuk bertebaran di muka bumi. Kamu nggak akan pernah cukup untuk sekedar mengamati. Apa yang terjadi juga bakalan buat kamu bergerak menjalankan peran. Itu juga kalo hati kamu nggak mati."
"Maksudmu, hatiku udah mati, gitu? Cuma karena aku nggak mau ngelanjutin mimpi jadi penulis?"
"Kalo hati kamu nggak tergerak karena judgement tadi, ya aku juga nggak bisa bilang kalo hatimu masih hidup."
Jadi, ceritanya hati sama pikiran saya lagi berantem, dan saya sendiri udah lupa kenapa hal itu bisa terjadi. Sudah terlalu sering. Sudah terlalu banyak penyebab. dan Saya sudah lupa yang mana satu yang mempengaruhi terciptanya tulisan semacam ini.
Draft catatan ini tertanggal 16 Februari 2015, mungkin saya lelah, atau (sok) lelah, jadi saya lupa bagaimana kelanjutan kisah komet ini..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment