Sunday, 19 October 2014

Morning Rain

     "Sungguh, kau tak perlu membaca kisah ini seperti yang orang lain lakukan. Kaulah yang lebih dahulu menghafal mati semua rasa yang ada dalam kisah ini sejauh perjalanan panjang yang kau tempuh. Ini tentangmu..." Suara itu menggema memenuhi segumpal darah bernama hati. Sepertinya itu suaraku.

     Tanganku masih berusaha menutupi layar laptop di hadapanku. Begitu, selalu saja, lagi, kau ingin tahu apa yang sedang kukerjakan. 

     "Mana sih, sini. Ibu mau liat." Kau tersenyum menggodaku. Seperti biasa, aku tahu tingkat kecerdasanmu takkan pernah menua layaknya usia yang kini sedang kau tapaki. Bagaimana dengan rasa penasaranmu? Persis. Sama seperti tingkahku ketika bocah dahulu, selalu ingin tahu segala hal.