Ada batas bernama sekat pada jantung—segumpal daging yang apabila ia baik, maka baik pula tutur-laku pemiliknya. Tapi sabarmu tak pernah punya batas, setahuku. Atau mungkin sabarmu mampu menembus sekat-sekat jantung hingga memenuhi seluruh ruang tanpa terkecuali—bahkan akhirnya menyebar ke seluruh tubuh. Jantungmu tak punya empat bilik yang memisahkan letak sabar, yang ku tahu. Sabarmu yang terkaya dan maafmu seluas semesta raya. Tak ada penat yang bisa hilang begitu saja, aku tahu. Dan kurasa kau sudah atau tengah berusaha tegar melalui proses pemakaman penat itu sendiri. Berbicara pada sesuatu di atas meja, seperti itu. Misalnya.
Kau—apa kabar? Aku tersenyum simpul saat menuliskan ini, sadar bahwa kau yang paling tegar dibalik berontak dalam diammu. Bukan. Barangkali definisi yang paling tepat adalah menerima. Iya, kau yang paling bisa menerima—segala bentuk kekacauan ego dan penjajahan. Penjajahan yang mana? Abaikan pikiran burukku. Penjajahan itu cuma mainan perasaan. Kekacauan itu juga cuma mainan perasaan. Jadilah manusia yang paling nyaman tinggal di planet itu. Planet yang pernah kutinggali sejenak dan menjadikan tunasku berhenti tumbuh. Tapi aku tau kau mampu. Sebab kau tau bahasa mereka, dan kau bersedia menggunakannya. Sebab aku dulu tak punya bahasa lain selain diam dan mengiyakan segala dikte dan keputusan. Kau yang paling tau, cuma bahasa itu yang bisa membuatku diterima di tengah mereka. Tapi aku tak mampu menjadi orang lain. Entah. Aku tak nyaman. Barangkali kau ingat saat bom waktu dalam diriku meledak, dan kau jadi makhluk yang berdiri di garis terdepan untuk membuatku berdiri, meski aku tak punya nyawa lagi.
Bisakah kau temukan radarku? Barangkali bukan terjatuh atau dicopet, tapi menyusut dan menyamar jadi debu, lalu tertinggal di tengah milyaran partikel gelombang elektromagnetik di udara. Agar aku bisa menghubungimu. Agar aku bisa tahu gerak setiap kelebat rasa yang ada di jantungmu—seperti dulu. Agar aku bisa seperti dulu, bicara tanpa suara. Bergerak tanpa bahasa. Sebab kau yang punya, dan kau yang bersedia menerjemahkannya.
Aku hidup seperti manusia ‘normal’, sekarang. Bicara dengan bahasa mereka, dan perlahan kehilangan bahasa yang kupunya. Sebab manusia ‘normal’ memang tak mampu mengerti bahasa yang kupunya, seperti katamu. Aku berusaha menciptakan robot dalam diriku sendiri agar aku mampu mengendalikan diri untuk menyelinap masuk menjadi bagian dari mereka. Kupikir aku bisa jadi manusia ‘normal’ hanya dengan meng-klik “i agree” pada persyaratan yang mereka ajukan. Nyatanya aku tetap tak banyak bicara, hingga kini. Sebab terlalu sulit bagiku untuk menggunakan seluruh bahasa yang manusia punya: bicara yang tak penting di dalam grup-grup sosial media (sudah pernah kucoba dan gagal total), berhaha hihi ria tanpa jelas apa yang ditertawakan (aku tak mengerti kenapa harus menertawakan candaan dusta yang dipaksakan), dan yang paling nyata adalah menghilangkan sekat antara manfaat dan pengakuan manusia. Baru kusadar, bahasa-bahasa itu tak kupunya. Kalau ada, aku memaksakannya. Aku tak bisa menjadi mereka sebab aku cuma punya jiwa, aku tak punya cukup kosakata bahasa mereka. Aku tak tau ini benar atau salah, tapi kenapa aku harus jadi mereka agar dianggap ada di mata manusia? Ini paragraf curhat. Usai kau baca sesi ini, mari lupakan dan kita kembali pada topik pembahasan : kau.
Rasa-rasanya kau akan selalu mampu hidup di planet itu, tempat yang pernah membuatku harus rela terdampar di sana dan meninggalkan jejak luka pemberontakan di hati penghuninya. Kau, jadilah yang paling tegar di sana. Sebab dalam ragamu tak hanya ada jiwa, tapi juga bahasa mereka—sesuatu yang tak pernah kumiliki. Ada yang menatapmu diam-diam, mendo’akanmu dari kejauhan. Barangkali bukan aku, tapi penghuni langit dan semesta.
Belakangan kutahu, kau bercerita pada sebuah layar maya. Bukan meja atau jendela. Semoga perjalananmu menyenangkan.
—CaLM, alienmu yang sedang bercita-cita bisa bertransformasi jadi ninja—
Pictures : LineDeco




4 comments:
semoga cita-citanya jadi kenyataan ya.. :)
Hehe aamiin, thank you, Mas Yogi. Monggo Kalau ada kritik pedas dan saran2.. :D
Bagus! Sudah ada bukunyakah?
Alhamdulillaah. Terimakasih sudah menyempatkan diri membaca. Bukunya belum ada, Pak. Mohon do'anya.. Hehe..
Post a Comment