Sunday, 17 November 2013

Hujan, kau ingatkan aku...

Lagi. Tiap rintik yang jatuh menghidupkan bumi. Menghidupkan gersang hati. Menghidupkan tandusnya harapan. Tiap tetes yang tiba dibumi disambut penuh haru oleh kulit bumi, jatuh, menari dan membuat percikan-percikan harapan pada tanah. Butiran-butiran air membasahi tanah yang begitu merindukan sapa kesejukan.

...
“Putri Luna menangis di balik jendela kamarnya. Sebuah kamar istana yang megah menawan kini terasa suram dan mencekam. Lukisan langit dan ilalang di seluruh penjuru kamar nan luas tak lagi dapat menentramkan hatinya. Kicau merdu burung-burung di sekitar jendela terasa ikut dirundung kesedihan yang sama...” Suaranya lembut dan meneduhkan, terasa penuh wibawa dan kebijaksanaan. Siapa saja yang mendengarkan ia membacakan dongeng pasti akan turut terbawa suasana.