Thursday, 12 January 2017

Pekat








"Aku ingin tidur. Biarkan aku tidur."

"Tidak. Kali ini saja. Kali ini saja. Kali ini saja. Jangan tidur, aku mohon."

"Esok aku ujian. Tak bisakah kau tunggu aku sampai selesai ujian? Tetaplah ada, jangan menghilang. Terbang saja, kesana-kemari, agar kau tetap terjaga dan tak hilang."

"Jangan tidur. Malam ini jangan tidur. Kali ini saja, Citra. Berdamailah denganku. Jangan tidur."


Demi masa—

Malam ini aku memang tak boleh tidur, setidaknya untuk satu jam ke depan. Kalau begitu, boleh aku menangis saja? Barangkali rasa ini akan latah mengikuti air mata keluar dari raga. Barangkali segala macam penat juga latah ikut lenyap. Barangkali segala bayangan yang mengacau pikiran lekas menyat. Barangkali setelahnya jerawat-jerawat di wajahku juga bersedia untuk minggat. Barangkali.


Stucked. Blocked. But i'm okay. Eventhough it's just in my mind. No, i mean, i suggest my mind.

Tulisan pertama di tahun 2017. Isi kepalaku terlanjur ruwet. Perasaanku terlanjur riweuh. Banyak mikir, banyak menahan perasaan, banyak membiarkan ide menghilang. Oh, Waktu. Ide-ide brilian itu seperti gugusan bintang di Bima Sakti yang tak mampu kulihat karena salahku membiarkan asap pembakaran sampah menutupi mata hati yang merasa dan mata wajah yang melihat. Ah, siapa pula yang sengaja membakar sampah? Hatiku sesak. Sesak.


Lama sudah—

Aku membiarkan malam pekat lenyap. Aku membiarkan rinai dan deras hujan lenyap. Aku membiarkan rindu dan benci lenyap. Aku membiarkan tawa dan tangis lenyap.

Lama sudah—dan malam ini aku mencoba berdamai dengan keadaan. Tak lagi membantah, kenapa aku harus rela membiarkan diriku lelah mengejar waktu. Malam sebelumnya, hari-hari sebelumnya, pekan-pekan sebelumnya, bulan-bulan sebelumnya, dan sebelumnya, dan sebelumnya lagi, dan jauh sebelumnya—aku diam dan menipu diri sendiri dengan sumpah serapah lembut dan menusuk, "matilah kau jika tak berjuang untuk sehat. Tubuhmu lelah dan harus beristirahat!" 

Aku lupa, rupanya. Bahwa healing therapy itu jauh lebih menyembuhkan dibanding kebanyakan tidur. Malam ini aku jadi anak baik saja. Demi rindu yang mengasapi dadaku hingga sesak, aku tak lagi membantah, "tak bisakah aku punya waktu lebih dari empat puluh delapan jam sehari?" Oh, Waktu. Baginilah cara Tuhan menyayangiku. Andai malam lebih cepat senyap, dan gelak tawa lebih  cepat lenyap, barangkali rindu ini tak pernah ada. 

Aku ingin menangis, Waktu. Aku rindu malam-malam senyap yang begitu sabar menggenggam lembut jemari yang selalu kaku saat memegang pena dan hening yang menuntun ruh untuk bersedia menceritakan apa yang tengah bergejolak di dunia.

Malam-malam ini diam, Waktu. Sebenarnya. Tapi dunia kacau. Suhu dingin jadi panas. Kepalaku ikut panas. Mana bisa aku mencari jarum di jerami yang panas dan tengah terbakar? Penistaan agama dimana-mana. Pembunuhan dimana-mana. Budak-budak Dajjal dimana-mana. Pertengkaran dimana-mana. Pencurian dimana-mana. Kezhaliman dimana-mana. Kekerasan dalam rumah tangga dimana-mana. Kemunafikan dimana-mana. Lalu tiba-tiba muncul isu ujian akhir yang semakin dekat. Ah, makin riweuh. Ada satu lagi yang mengganjal pikiranku, Waktu.

Anak itu. Bayi lelaki berusia enam bulan yang tampan teramat sangat maa syaa Allaah warbiyasah. Bayi mungil yang diasuh oleh tiga orang wanita; ibu kandung, nenek, dan seorang tante. Harusnya ia jadi anak emas bukan? Kau tahu, Waktu—wanita membesarkan anak dengan perasaan dan cinta yang teramat sangat. Tapi, jika ketiganya mengandalkan rasa yang tanpa akal.. Oh, Tuhan. Bayi mungil itu... tersiksa dalam kasih sayang. Ibu yang kesehatan akal dan mental yang nyaris tak berfungsi dengan baik sebab guncangan masa lalu. Nenek yang tak peduli apa makanannya tepat atau tidak sebab yang ia rasa hanya sayang, dan sayang adalah memberi makan—apapun bentuknya sekalipun ditolak oleh pencernaan si bayi mungil. Tante yang meski mengenal tiga atau sepuluh manusia terdekat selama bertahun-tahun lamanya namun akalnya tak mampu menjawab siapa mereka. 

Bayi mungil itu, pipinya penuh bintik merah, Waktu. Digigit nyamuk. Ketiga bidadari di rumah itu tak peduli tanpa bermaksud untuk tak peduli. Hanya saja rasa itu tak mampu menggiring akal untuk melindungi. 

Demi masa—
Cerita apa aku? Biarlah. Sengaja. Sengaja kubiarkan mengalir kesana-kemari karena... sudah kukatakan tadi. Aku terlanjur kusut. Tak tahu harus memulai dari mana. Tak tahu harus mengakhiri di mana. Dunia semakin tua, Waktu. Kapan nanti akan kuceritakan padamu tentang rindu yang menggumpal dan mengawan, mengambang dan menanti masa untuk menghilang.

Demi masa—
Aku rindu. Pada malam pekat yang senyap dan pikiran yang tak terlalu penat. Aku rindu. Pada pena yang menari di atas kertas pada udara pagi tanpa nafas orang-orang jahat pada angin dan hujan yang menjadikan rindu itu semakin meradang pada rasa yang semacam secangkir coklat hangat dengan kadar pahit yang lebih banyak daripada manisnya pada jalan dan perjalanan pada senja yang beringsut menggelap pada jutaan bintang yang bertabur di permukaan air danau pada bukit ilalang pada ombak pada langit biru pada hutan hijau dan pegunungan dengan gradasi warna biru.

Aku rindu, pada halimun senja—yang menyulap takut menjadi harap.


Kenanga Raya, 12 Januari 2017
Peluklah semua tanyaku, jawablah dengan cara-Mu.
—Dee

No comments: