Hai,
bagaimana kabarmu di sana?
Hm? Di sana? Memangnya kau sedang ada di belahan bumi mana? Bumi yang mana satu?
Memangnya ada berapa bumi di tata surya? Atau engkaukah yang diam bersembunyi
dalam Andromeda, sengaja menjadi lebih redup agar tak terlihat dunia? Atau
engkaukah itu, asap-asap bercahaya milik Magellan, berjalan pelan-pelan lalu menghambur
ke dalam pelukan—Bima Sakti? Entahlah. Entah di bumi mana kau berpijak, entah
di langit mana kau berkelana, semoga kau selalu dalam keadaan berbahagia.
Iya. Bukan hanya bahagia, tapi berbahagia, agar hatimu sempurna lapangnya. Hari
ini sengaja kucari arti sesungguhnya dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, agar
kita tak terlalu sempit memaknai berbahagia itu.
Berbahagia
(a) : 1. Dalam keadaan bahagia*);
bahagia; 2. (v) menikmati kebahagiaan*);
bahagia.
Ada
berjuta orang yang terlihat baik-baik saja, tapi semoga engkau berbahagia,
bukan hanya terlihat bahagia saja. Ada berjuta orang yang ingin berbahagia
dengan mengorbankan seluruh hartanya, tapi berbahagia itu benar-benar mahal
harganya, takkan terbeli kecuali Allah langsung yang menganugerahkannya ke
dalam hati manusia. Semoga hatimu menyimpan semua maknanya, apa yang terlihat
dan apa yang tersembunyi. Ada dua hal yang tak bisa digantikan dengan apapun,
apalagi dibeli dengan seluruh perbendaharaan langit dan bumi, dua hal yang
setara mahalnya dengan ukhuwah; dua hal tersembunyi di balik makna berbahagia.
Bahagia
(n) : keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang
menyusahkan)
Kebahagiaan
(n) : Kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran
yang bersifat lahir batin.
Semoga lahir batinmu bahagia, sebahagia tangis pertamamu pecah memekik telinga saat kau lahir ke dunia.
***
Setahun mundur ke belakang, aku pergi, melarikan diri ke sebuah daerah di Aceh bernama
Meulaboh. Menikmati udara kebebasan sesaat di sepanjang perjalanan. Memuaskan mata
memandang takjub ribuan sayap putih malaikat terbentang di langit biru: Cirrus,
seolah sengaja terbentang untuk menjaga penduduk bumi. Melihat, mendengar, dan
merasakan—hanya itu yang bisa kulakukan sepanjang perjalanan dari rumah menuju
Meulaboh, terkagum-kagum sendiri melewati jalan-jalan yang dinamai Baitul
Maqdis, Jabal Nur, dan Jabal Rahmah. Semuanya ada di sini, mungkin berujung di
titik Banda Aceh, Serambi Makkah—sebuah kota yang tak akan mungkin terhapus
dalam ingatanmu jika nanti kau berkunjung ke sana. Jika nanti kau berkunjung ke sana, bersamaku.
***
Bah
Barot, sebuah karya merdu sederhana dan termasuk jenis lain dari musik alam
bernama deburan ombak, lahir dalam bentuk sungai, dan setia mengabdi pada bumi Aceh
sebagai saksi bisu para buruh mengeruk dan menyusun batu dari dalamnya. Masih
tiga jam lagi menuju Meulaboh, sayap-sayap Cirrus pagi sudah melebur dengan hawa
panas siang, berubah bentuk menjadi adonan baru bernama Altocumulus, perlahan
tapi pasti, berjalan beriringan dituntun angin dan waktu, menuju satu titik di
udara, tak tahu kemana akan bermuara. Mungkin mereka pulang ke sarangnya, pikirku.
Atau mungkin jawabannya akan berbeda jika engkau yang mengutarakannya. Itu pun jika engkau ada di sini, di tempat
ini, membersamaiku dalam petualangan tak bernama.
Lebih
dari sepuluh jam perjalanan, dan debur ombak Nagan Raya mulai terdengar jelas.
Sudah tiba rupanya, masa semburat jingga kian mengelam, Altocumulus tetap setia
menjadi pengembara udara, tetap beringsut menuju satu titik semu yang tak
pernah kutahu—sepanjang angin berhembus. Lalu aku membiarkan pikirku tersesat
dalam pertanyaanku sendiri; akan kemanakah awan-awan itu pulang. Hingga tercetus
sebuah jawaban yang terilham di kepala, awan-awan akan selamanya mengembara,
tak pernah pulang ke sarangnya. Manusia pulang ke rumah, dan rumah manusia ada
di mana-mana. Rumah bukan kotak kenangan tempat manusia dilahirkan dan beranjak
menua, rumah adalah kemana hati tertambat lalu pulang dan bersarang di
dalamnya, entah pada sebuah kotak beratap entah pada hati manusia. Entah pada
cinta, entah pada cita-cita, entah pada sepi, entah pada angin, entah pada
udara pagi, entah pada ombak. Yang kuingat
saat itu; mungkinkah kita punya rumah yang sama, yang tak pernah terbaca
manusia.
Tiga hari aku menghilang dari keramaian ibu kota, menikmati masa-masa
pengasingan sendiri dalam detik-detik senja. Ramuan obatnya masih sama, angin,
udara, air, debur ombak, juga tawa beberapa anak manusia yang membuncah memecah sepi—kadang kala. Andai engkau ada di sini. Mungkin aku tak perlu memikirkan hadiah
apa yang tepat untuk usiamu yang ke-dua puluh—di tahun itu. Mungkin kebersamaan sudah bisa
jadi hadiah paling berharga. Mungkin engkau akan berbahagia, meski yang kita
punya hanya kaki yang mengukir jejak pada pasir, tawa yang hanya didengar
langit, senyum yang hanya disambut laut, mungkin. Mungkin kau akan berbahagia,
meski yang kita bisa hanya mencipta lagu sederhana, atau merangkai kata tanpa
nada, atau menghabiskan waktu untuk memikirkan masa depan adik-adik kita. Tapi jika
dilakukan bersama, mungkin kau akan berbahagia. Mungkin. Tapi lebih besar kemungkinannya bahwa aku yang
merasakannya. Tapi semoga engkau
berbahagia.
***
Aku
terlambat setahun. Tapi waktu tak mungkin mundur. Atau barangkali bisa
dihentikan sampai sayap-sayap Cirrus mengantarkanku kembali ke masa itu lewat
lorong waktu menuju ke kamarmu untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Atau
paling tidak, cukup mendaratkanku tepat di atas atap rumahmu, lalu kau akan
keluar dari rumah dan terperangah melihat ada makhluk sejenis Tinkerbell atau
Harry Potter—atau mungkin sejenis Alien, menurutmu—tersenyum salah tingkah saat mengucapkan selamat ulang tahun dengan
tangan kiri yang melambai jenaka dan tangan kanan menyerahkan hadiah berupa
laporan pertanggungjawaban kerja. Tapi kurasa bukan laporan pertanggungjawaban,
karena mustahil laporan itu selesai saat hari muhasabahmu tiba.
Nyatanya
waktu memang tak mungkin ditahan, disuruh berhenti berjalan, apalagi diminta
untuk mundur, seperti apa yang Dee lantunkan. Aku terlambat setahun sampai
usiamu kini yang ke-dua puluh satu. Serasa jarak itu memang jauh, atau sudah
menjauh, atau tak tersentuh, entahlah. Atau mungkin kegagalan fungsi bukan pada
sinyal selularku, tapi pada radarku. Apa pesannya tiba tepat waktu? Selamat ulang tahun, Kometchameleon. Semoga
kau berbahagia.
Sumber Gambar: Line Deco
Sebagai informasi sekaligus penghormatan terhadap attitude kepenulisan, kisah ini campuran antara fiksi dan non-fiksi. Bagian perjalanan sepenuhnya berdasarkan kisah nyata, bagian paragraf awal berisi informasi galaksi, radar dan semacamnya tentu saja fiksi.





No comments:
Post a Comment