Friday, 20 November 2015

Retrouvailles

Hai, bagaimana kabarmu di sana?
Hm? Di sana? Memangnya kau sedang ada di belahan bumi mana? Bumi yang mana satu? Memangnya ada berapa bumi di tata surya? Atau engkaukah yang diam bersembunyi dalam Andromeda, sengaja menjadi lebih redup agar tak terlihat dunia? Atau engkaukah itu, asap-asap bercahaya milik Magellan, berjalan pelan-pelan lalu menghambur ke dalam pelukan—Bima Sakti? Entahlah. Entah di bumi mana kau berpijak, entah di langit mana kau berkelana, semoga kau selalu dalam keadaan  berbahagia.
Iya. Bukan hanya bahagia, tapi berbahagia, agar hatimu sempurna lapangnya. Hari ini sengaja kucari arti sesungguhnya dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, agar kita tak terlalu sempit memaknai berbahagia itu.
Berbahagia (a) : 1. Dalam keadaan bahagia*); bahagia; 2. (v) menikmati kebahagiaan*); bahagia.


Ada berjuta orang yang terlihat baik-baik saja, tapi semoga engkau berbahagia, bukan hanya terlihat bahagia saja. Ada berjuta orang yang ingin berbahagia dengan mengorbankan seluruh hartanya, tapi berbahagia itu benar-benar mahal harganya, takkan terbeli kecuali Allah langsung yang menganugerahkannya ke dalam hati manusia. Semoga hatimu menyimpan semua maknanya, apa yang terlihat dan apa yang tersembunyi. Ada dua hal yang tak bisa digantikan dengan apapun, apalagi dibeli dengan seluruh perbendaharaan langit dan bumi, dua hal yang setara mahalnya dengan ukhuwah; dua hal tersembunyi di balik makna berbahagia.

Bahagia (n) : keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)
Kebahagiaan (n) : Kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin.

Semoga lahir batinmu bahagia, sebahagia tangis pertamamu pecah memekik telinga saat kau lahir ke dunia.

***

Sekitar tujuh hari lalu—ah, tidak. Sekitar delapan atau sembilan belas hari yang lalu, aku menanti hari ini tiba; tanggal dimana ibumu berhasil mengukir sejarah, melepas dosa dengan menjihadkan nyawa untuk sebuah kelahiran anak pertama. Entah bagaimana ceritanya, rasanya aku ingin berada di sana—tepat saat wanita itu melahirkanmu. Agar suaraku bisa memeluk udara, mengantarkan sebuah nama pada kedua daun telinga: Kometchameleon. Lalu dengan nama itu ingatanku meluncur pada sebuah tempat dimana jutaan Dandelion terhampar, lalu melepas anak-anaknya dalam pelukan angin ke arah mana deburan ombak bermuara. Entah kemana deburan ombak bermuara, atau kemana pikiranku saat itu bermuara.


Setahun mundur ke belakang, aku pergi, melarikan diri ke sebuah daerah di Aceh bernama Meulaboh. Menikmati udara kebebasan sesaat di sepanjang perjalanan. Memuaskan mata memandang takjub ribuan sayap putih malaikat terbentang di langit biru: Cirrus, seolah sengaja terbentang untuk menjaga penduduk bumi. Melihat, mendengar, dan merasakan—hanya itu yang bisa kulakukan sepanjang perjalanan dari rumah menuju Meulaboh, terkagum-kagum sendiri melewati jalan-jalan yang dinamai Baitul Maqdis, Jabal Nur, dan Jabal Rahmah. Semuanya ada di sini, mungkin berujung di titik Banda Aceh, Serambi Makkah—sebuah kota yang tak akan mungkin terhapus dalam ingatanmu jika nanti kau berkunjung ke sana. Jika nanti kau berkunjung ke sana, bersamaku.

***
Bah Barot, sebuah karya merdu sederhana dan termasuk jenis lain dari musik alam bernama deburan ombak, lahir dalam bentuk sungai, dan setia mengabdi pada bumi Aceh sebagai saksi bisu para buruh mengeruk dan menyusun batu dari dalamnya. Masih tiga jam lagi menuju Meulaboh, sayap-sayap Cirrus pagi sudah melebur dengan hawa panas siang, berubah bentuk menjadi adonan baru bernama Altocumulus, perlahan tapi pasti, berjalan beriringan dituntun angin dan waktu, menuju satu titik di udara, tak tahu kemana akan bermuara. Mungkin mereka pulang ke sarangnya, pikirku. Atau mungkin jawabannya akan berbeda jika engkau yang mengutarakannya. Itu pun jika engkau ada di sini, di tempat ini, membersamaiku dalam petualangan tak bernama.


Lebih dari sepuluh jam perjalanan, dan debur ombak Nagan Raya mulai terdengar jelas. Sudah tiba rupanya, masa semburat jingga kian mengelam, Altocumulus tetap setia menjadi pengembara udara, tetap beringsut menuju satu titik semu yang tak pernah kutahu—sepanjang angin berhembus. Lalu aku membiarkan pikirku tersesat dalam pertanyaanku sendiri; akan kemanakah awan-awan itu pulang. Hingga tercetus sebuah jawaban yang terilham di kepala, awan-awan akan selamanya mengembara, tak pernah pulang ke sarangnya. Manusia pulang ke rumah, dan rumah manusia ada di mana-mana. Rumah bukan kotak kenangan tempat manusia dilahirkan dan beranjak menua, rumah adalah kemana hati tertambat lalu pulang dan bersarang di dalamnya, entah pada sebuah kotak beratap entah pada hati manusia. Entah pada cinta, entah pada cita-cita, entah pada sepi, entah pada angin, entah pada udara pagi, entah pada ombak. Yang kuingat saat itu; mungkinkah kita punya rumah yang sama, yang tak pernah terbaca manusia.


Tiga hari aku menghilang dari keramaian ibu kota, menikmati masa-masa pengasingan sendiri dalam detik-detik senja. Ramuan obatnya masih sama, angin, udara, air, debur ombak, juga tawa beberapa anak manusia yang membuncah memecah sepi—kadang kala. Andai engkau ada di sini. Mungkin aku tak perlu memikirkan hadiah apa yang tepat untuk usiamu yang ke-dua puluh—di tahun itu. Mungkin kebersamaan sudah bisa jadi hadiah paling berharga. Mungkin engkau akan berbahagia, meski yang kita punya hanya kaki yang mengukir jejak pada pasir, tawa yang hanya didengar langit, senyum yang hanya disambut laut, mungkin. Mungkin kau akan berbahagia, meski yang kita bisa hanya mencipta lagu sederhana, atau merangkai kata tanpa nada, atau menghabiskan waktu untuk memikirkan masa depan adik-adik kita. Tapi jika dilakukan bersama, mungkin kau akan berbahagia. Mungkin. Tapi lebih besar kemungkinannya bahwa aku yang merasakannya. Tapi semoga engkau berbahagia.

***
Aku terlambat setahun. Tapi waktu tak mungkin mundur. Atau barangkali bisa dihentikan sampai sayap-sayap Cirrus mengantarkanku kembali ke masa itu lewat lorong waktu menuju ke kamarmu untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Atau paling tidak, cukup mendaratkanku tepat di atas atap rumahmu, lalu kau akan keluar dari rumah dan terperangah melihat ada makhluk sejenis Tinkerbell atau Harry Potter—atau mungkin sejenis Alien, menurutmu—tersenyum salah tingkah  saat mengucapkan selamat ulang tahun dengan tangan kiri yang melambai jenaka dan tangan kanan menyerahkan hadiah berupa laporan pertanggungjawaban kerja. Tapi kurasa bukan laporan pertanggungjawaban, karena mustahil laporan itu selesai saat hari muhasabahmu tiba.
Nyatanya waktu memang tak mungkin ditahan, disuruh berhenti berjalan, apalagi diminta untuk mundur, seperti apa yang Dee lantunkan. Aku terlambat setahun sampai usiamu kini yang ke-dua puluh satu. Serasa jarak itu memang jauh, atau sudah menjauh, atau tak tersentuh, entahlah. Atau mungkin kegagalan fungsi bukan pada sinyal selularku, tapi pada radarku. Apa pesannya tiba tepat waktu?  Selamat ulang tahun, Kometchameleon. Semoga kau berbahagia. 


Sumber Gambar: Line Deco
Sebagai informasi sekaligus penghormatan terhadap attitude kepenulisan, kisah ini campuran antara fiksi dan non-fiksi. Bagian perjalanan sepenuhnya berdasarkan kisah nyata, bagian paragraf awal berisi informasi galaksi, radar dan semacamnya tentu saja fiksi. 

No comments: