"Berapa lama lagi waktu yang kita miliki?"
"Berapa lama lagi? Maksudmu?"
"Waktu untuk kita tetap bisa saling berpegangan erat.."
Langit senja bersemu merah kala itu. Semburat gelap malam sudah tiba sebagian, menggores-gores cakrawala dengan sebuah isyarat. Entah kau mampu menangkap isyarat itu atau tidak, tapi langit jelas tengah menunjukkannya padamu. Binar matamu tenang, nyaman dengan penampakan bola jingga terang yang tengah meluncur perlahan di ufuk barat. Wajahmu tetap datar seperti biasa, tapi aku tahu hatimu menghangat setiap kali menyaksikan upacara penutupan hari yang ada dalam khayalanmu.
"Mengapa pertanyaannya berapa lama lagi?"
"Demi masa."
"Aku tak mengerti maksudmu."
"Jangan berusaha untuk mengerti." Aku menutup dialog aneh itu dengan senyum yang tak kalah anehnya. Kau menoleh ke arahku, memandangku dengan tatapan yang lebih aneh lagi. Heran sudah pasti, bukan barangkali lagi. Alismu mengkerut dengan raut wajah yang penuh tanda tanya, kode keras bahwa kau ingin agar aku menjabarkan segala isyarat aneh itu tanpa harus kauminta terlebih dahulu.
"Apa? Hahaha." Aku tertawa melihat tingkahmu. Seakan baru tersiram wahyu yang turun dari langit, saat itu, untuk pertama kalinya aku bertanya pada diriku sendiri, "sudah seberapa sering aku bisa tertawa lepas di sampingmu?" Padahal saat itu aku tidak melepaskan tawaku sepenuhnya, sibuk memikirkan jawaban atas pertanyaan itu-lalu aku terdiam menghayati saat-saat bersamamu.
"Hayya 'alash-sholaah..." Ada jiwa-jiwa yang merasa terpanggil, lalu segera berlari mensucikan diri dan larut dalam sujudnya. Ada pula jiwa-jiwa yang masih terdiam, resah merutuki nasib buruk pada hari itu. Entah nasibnya yang memang buruk, atau usahanya yang buruk. Yang jelas hari itu bukan takdirnya yang buruk, karena takdir masih bisa diubah dengan ketulusan do'a seandainya ia mau. Dua salam perpisahan dari sholat sunnah ba'da maghrib resmi mengakhiri munajat hamba-hamba yang merindukan perjumpaan dengan-Nya pada waktu itu. Wajahmu teduh, melipat mukenah dan meletakkannya ke dalam lemari mesjid. Aku merasakan kehangatan ukhuwah di sela-sela senyum simpul di bibirku. Serasa ada kupu-kupu kecil hinggap dan mengetuk pintu hati, saat itu, untuk pertama kalinya aku bertanya pada diriku sendiri, "sudah seberapa sering aku terenyuh padahal engkau sedang diam dalam heningmu?"
"Tolong ambilkan kunci motor di dalam tasku." Kedua tanganmu berusaha sekuat tenaga memegang erat tas jinjing berisi buku seberat lima kilo. Tebalnya seperti kitab wajib anak-anak kedokteran. Aku membuka tas di punggungmu, berusaha meraih kunci yang berada di bawah tumpukan buku-buku bacaan wajibmu. Seperti terbangun dari lamunan panjang, saat itu, untuk pertama kalinya aku bertanya pada diriku sendiri, "pernahkah aku memudahkan kesulitanmu?"
Air di permukaan sungai tampak begitu tenang, merayap pelan-pelan menuju muara berlabuh. Seperti laju kendaraan kita, lambat merangkak tertahan macet bila malam menjelang. Gemericik air sungai menenangkan kegelisahan, meski klakson kendaraan tidak. Deru berseteru, ingin lebih dahulu daripada yang terdahulu. Tapi kau tidak. Sabarmu dalam diam, nyata meski tak dinyatakan. Bukan itu yang menyakitimu, tapi hal yang berbeda. Ketika terkadang teori tak sesuai dengan kenyataan, misalnya, atau ketika asamu menguap karena ketidakpedulianku. Lagi, seolah ada anak panah wahyu yang menghunjam qalbu, saat itu, untuk pertama kalinya aku bertanya pada diriku sendiri, "sudahkah cukupkah aku memahamimu? Ataukah selama ini aku hanya sebatas mengenalmu?"
"Setiap awal pasti ada akhirnya," kataku, membuyarkan keheningan di ruangan tamu rumahmu.
"Hm?" Alismu mengernyit, wajahmu polos menoleh ke arahku.
"Berapa lama lagi waktu yang kita miliki?"
"Hmm... Waktu untuk apa?" Kau bertanya lagi, padahal aku tahu, sebenarnya kau mengerti maksudku. Aku juga tahu kau sama sepertiku, berharap agar kenyatannya kita tak benar-benar tahu.
"Waktu untuk kita tetap bisa saling berpegangan erat."
"Hm?"
"Sebelum kita dipisahkan, atau memilih untuk berpisah." Setelah menghela nafas panjang, aku terdiam. Seandainya aku adalah sticker dalam aplikasi social-media di gadgetmu, mungkin saat itu aku adalah anak bebek berwarna kuning yang sedang mencoret-coret tanah dengan sebatang ranting-yang entah bagaimana caranya agar sayapnya bisa memegang ranting itu dan entah bagaimana pula cara ia mendapatkannya-tak penting, karena inti sebenarnya adalah ketidaksanggupanku mengatakan hal itu padamu.
"Lebih mulia yang mana?" Kau bertanya, mencoba meneliti kebaikan di antara keduanya.
"Ketika kita meridhoinya."
"Setiap awal pasti ada akhirnya," kataku, membuyarkan keheningan di ruangan tamu rumahmu.
"Hm?" Alismu mengernyit, wajahmu polos menoleh ke arahku.
"Berapa lama lagi waktu yang kita miliki?"
"Hmm... Waktu untuk apa?" Kau bertanya lagi, padahal aku tahu, sebenarnya kau mengerti maksudku. Aku juga tahu kau sama sepertiku, berharap agar kenyatannya kita tak benar-benar tahu.
"Waktu untuk kita tetap bisa saling berpegangan erat."
"Hm?"
"Sebelum kita dipisahkan, atau memilih untuk berpisah." Setelah menghela nafas panjang, aku terdiam. Seandainya aku adalah sticker dalam aplikasi social-media di gadgetmu, mungkin saat itu aku adalah anak bebek berwarna kuning yang sedang mencoret-coret tanah dengan sebatang ranting-yang entah bagaimana caranya agar sayapnya bisa memegang ranting itu dan entah bagaimana pula cara ia mendapatkannya-tak penting, karena inti sebenarnya adalah ketidaksanggupanku mengatakan hal itu padamu.
"Lebih mulia yang mana?" Kau bertanya, mencoba meneliti kebaikan di antara keduanya.
"Ketika kita meridhoinya."
26 rabi'ul Awal 1436 H
Tulisan ini lama kubekap dalam sebuah ruang penat, lalu sekarang kulepaskan tanda hatiku telah rela. Selalu ada senyum ketika aku mengenang keabstrakanmu. Ini hanya sepenggal dari sekian banyak, sebelum aku pergi, atau kau yang akan pergi. Atau sebelum kita berdua memutuskan untuk sama-sama pergi.
Img : Google




No comments:
Post a Comment