Thursday, 4 August 2016

Nostalgique


Pada sebuah meja kau bercerita sendiri. Entahlah, barangkali bukan meja. Masih ada jendela yang terbuka lebar, menghisap seluruh gemuruh merdu ombak dari seberang sana dan menghembuskannya lembut ke dalam telingamu. Berderu, perlahan dan membekas di hatimu. Ombak pernah jadi salah satu definisi suara semesta termerdu bagi kita, dengannya kita bercerita tentang gundah, lalu membiarkan gemuruhnya menyeret dan menghempaskan kisah pahit itu ke laut sana. Dan gundah hilang. Yang ada hanya kita, dan tawa—hambar. Tapi kepalamu menunduk, memang bukan pada jendela kau bercerita, sepertinya. Sesuatu di atas meja, tapi apa?

Ada batas bernama sekat pada jantung—segumpal daging yang apabila ia baik, maka baik pula tutur-laku pemiliknya. Tapi sabarmu tak pernah punya batas, setahuku. Atau mungkin sabarmu mampu menembus sekat-sekat jantung hingga memenuhi seluruh ruang tanpa terkecuali—bahkan akhirnya menyebar ke seluruh tubuh. Jantungmu tak punya empat bilik yang memisahkan letak sabar, yang ku tahu. Sabarmu yang terkaya dan maafmu seluas semesta raya. Tak ada penat yang bisa hilang begitu saja, aku tahu. Dan kurasa kau sudah atau tengah berusaha tegar melalui proses pemakaman penat itu sendiri. Berbicara pada sesuatu di atas meja, seperti itu. Misalnya.

Thursday, 16 June 2016

Joyeux Anniversaire

Coba tebak, berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk pulang ke empat tahun silam? Dua hari. Oh, tidak. Nyatanya aku sudah pulang jauh-jauh hari, mencerna dunia tanpa spasi yang pernah kita miliki, lalu berniat membuatkanmu sebuah kejutan. Kejutan, bukan sekedar seremonial belaka. Berbulan-bulan sebelum hari jadimu tibasaat seminar, saat penelitian, saat skripsi sedang kukerjakan, hingga saat sidang—aku memikirkan sesuatu yang bisa menciptakan ekspresi kaget, heran dan terharu di wajahmu. Sebuah suasana yang meluluh-lantakkan hati dan perasaanmu, sampai kau takkan melupakan itu seumur hidupmu. Tapi suasana itu cuma hidup dalam pikiranku: aku datang ke kotamu, mengetuk pintu kamarmu dengan wajah paling datar sambil bilang "aku datang." Nyatanya aku masih di sini.


Banyak sekali kisah yang ingin kuputar ulang untukmu. Bukan hanya empat tahun silam, tapi juga tujuh tahun silam, sembilan tahun silam, sepuluh tahun silam. Dan ketika menuliskan ini aku baru sadar bahwa sepuluh tahun itu singkat, dan waktu mengantarkanmu ke sana dan aku ke sini. Apa yang selanjutnya kau baca akan menyita pikiranmu, menuntut konsentrasi dan perhatian lebih darimu, hanya agar kau bisa mencerna apa yang ingin kusampaikan. Tulisan ini tanpa slide, tanpa soundtrack yang mendukung, apalagi film pendek yang bisa memudahkanmu mengingat. Untuk itu, tulisan ini butuh perhatian dari pikiranmu. Juga hati.

Aku datang untuk mengajakmu pulang ke satu per satu tahun yang sudah kusebutkan tadi. Kau siap?


Friday, 4 March 2016

Ala Bisa Karena Terpaksa

"Apa alasan kamu mengundurkan diri?"

Aku yang sejak tadi tertunduk membaca buku terkejut saat Ustadzah mempertanyakan hal itu padaku. Ah, padahal kupikir hal itu takkan dibahas lagi karena sudah jelas penyebab aku belum bisa berpartisipasi untuk saat ini. Seminggu ke depan, beberapa orang dari kami harus menjalani micro-teaching untuk persiapan mengajar santri baru. Itu artinya, seminggu ke depan bakalan jadi seminggu paling seru sepanjang proses belajar-mengajar. Seru, menantang, juga lumayan buat olahraga jantung level sedang.