Thursday, 4 August 2016

Nostalgique


Pada sebuah meja kau bercerita sendiri. Entahlah, barangkali bukan meja. Masih ada jendela yang terbuka lebar, menghisap seluruh gemuruh merdu ombak dari seberang sana dan menghembuskannya lembut ke dalam telingamu. Berderu, perlahan dan membekas di hatimu. Ombak pernah jadi salah satu definisi suara semesta termerdu bagi kita, dengannya kita bercerita tentang gundah, lalu membiarkan gemuruhnya menyeret dan menghempaskan kisah pahit itu ke laut sana. Dan gundah hilang. Yang ada hanya kita, dan tawa—hambar. Tapi kepalamu menunduk, memang bukan pada jendela kau bercerita, sepertinya. Sesuatu di atas meja, tapi apa?

Ada batas bernama sekat pada jantung—segumpal daging yang apabila ia baik, maka baik pula tutur-laku pemiliknya. Tapi sabarmu tak pernah punya batas, setahuku. Atau mungkin sabarmu mampu menembus sekat-sekat jantung hingga memenuhi seluruh ruang tanpa terkecuali—bahkan akhirnya menyebar ke seluruh tubuh. Jantungmu tak punya empat bilik yang memisahkan letak sabar, yang ku tahu. Sabarmu yang terkaya dan maafmu seluas semesta raya. Tak ada penat yang bisa hilang begitu saja, aku tahu. Dan kurasa kau sudah atau tengah berusaha tegar melalui proses pemakaman penat itu sendiri. Berbicara pada sesuatu di atas meja, seperti itu. Misalnya.