Saturday, 10 November 2018

Belajar Berani Berlayar

"Tring..!!" Sebuah notifikasi masuk ke handphone-ku.

"Jadi kau berencana kemana setelah ini?" Perempuan itu bertanya padaku, sebuah pertanyaan yang membuatku terhenyak. Beku seketika, sebab aku tak tahu jawabannya.

"Tring..!!" Handphone-ku berbunyi lagi. Notifikasi lagi, aku abai. Dalam sehari, ada ratusan notifikasi masuk, puluhan di antaranya sengaja ku-silent-kan agar bisa membantuku menjaga jarak dari perangkat itu.

"Entah." Jawabku atas tanya perempuan yang akrab denganku dan biasa kupanggil kakak itu.

"Masa entah, sih? Seorang kamu nggak punya plan setelah ini mau kemana? Nggak percaya." Dia membalasku dengan logat jawanya yang kental, wajahnya menyeringai, menatapku aneh.

"Mau kerja di toko parfum." Jawabku singkat. Bisa kurasakan bibirku tersungging di sisi kanan, mataku menatapnya datar.

"Hah?" Dia balas dengan ekspresi yang sama. Bedanya, ia mengerutkan kedua alisnya. "Kenapa toko parfum?" Tanyanya. Entah apa alasannya bertanya, tapi aku tahu betul sebenarnya ia samasekali tak  mempercayai jawabanku.

"Karena aku suka parfum." Jawabku datar. Aku menatap perempuan yang memasang mimik wajah heran itu.

"Itu aja?" Tanyanya lagi.

"Ya. Atau di travel umroh juga oke." Kali ini aku memberinya jawaban berbeda, sesuatu yang masih nyambung dengan studiku. "Meskipun aku tak tahu entah travel mana yang berkenan mempekerjakanku." Gumamku dengan kecepatan 200km/jam.

"Kenapa?" Ia bertanya lagi. Kali ini ekspresinya lebih percaya.

"Karena aku suka. Aku suka jadi admin, customer service juga boleh, menyapa pelanggan, berbincang dan memberikan penjelasan tentang apa yang mereka ingin tahu, mendengar curhat mereka dan membantu menemukan solusi. Kurasa anak ekonomi pembangunan memang dilahirkan untuk memahami perasaan orang lain." Jawabku. Dia terdiam, tak menyangka aku akan mengeluarkan penjelasan itu. Andai dia tahu, sesungguhnya aku tak benar-benar serius menjawabnya.

Mati sebelum mati—begitu istilah yang pernah kudengar dari seorang motivator—untuk orang yang pesimis akan hidup. Miim, bukankah sejak dulu aku memang begitu? :D

"Tring...!" Entah notifikasi ke berapa, kali ini aku memutuskan untuk membukanya, lari dari pembicaraan yang melelahkan itu.

121 pesan masuk. kuscroll layar handphone-ku. Sebuah nomor baru. Isi pesannya, ada surat masuk untukku dari sebuah blog baru. Pesan darimu. Pesan yang selalu kutunggu-tunggu.



...
Miim, saat dulu kau berjalan denganku di tempat ramai, pernahkah kau merasa aku menarik bajumu, menarik lenganmu tiba-tiba, dengan gerakan seperti orang terkejut dan ketakutan? Pernahkah kau menemukan aku yang membeku dalam situasi rapat, atau bersembunyi di balikmu dalam pertemuan dengan kawan-kawan seangkatan?

Kemarin, aku menghadiri sebuah pertemuan sosial di instansi tempatku bekerja. Undangan telah dikirimkan tiga hari sebelum hari itu. Sebelumnya, aku merasa baik-baik saja—sampai hari kemarin tiba.

Pagi itu, sebelum kakiku melangkah keluar rumah untuk menghadiri undangantak tahu apa sebabnya, tak mengerti kenapajantungku berdegup kencang, tanganku gemetar, nafasku tersengal, persis seperti orang yang harus menghadapi sidang skripsi secara terbuka. Beberapa rekan kerja terdekat kuhubungi, kutanyakan posisi mereka. Satu orang tak mengangkat, kutekan nomor telepon lain, memastikan ia akan benar-benar hadir di acara itu.

Berkali-kali  aku menghela nafas panjang selama di perjalanan menuju tempat bekerja, berusaha menenangkan diri sendiri : akan ada teman-temanku di sana. Aku akan baik-baik saja. Aku akan menemui mereka. Aku akan berbincang dengan rekan kerja terdekat. Aku akan menyapa orang lain yang mungkin kukenal. Aku akan bertemu dengan guru-guruku. Aku akan bertemu dengan teman-teman kuliahku. Akan ada orang yang kukenal di sana untuk tempatku bersembunyi di baliknya dan membersamaiku selama acara. Aku tak perlu berkenalan dengan orang baru. Aku tak akan sendirian. Setidaknya begitu.

Miim, begitu gugupnya aku, sampai tak mampu merasakan gerimis rapat yang sudah sempurna membasahi jaketku. Pengendara sepeda motor merapat ke tepi jalan, mulai memasang mantel, tapi aku abai, tetap melanjutkan perjalanan.

Bahkan sampai di parkiran, aku sempat terdiam sejenak. Melipat jaket, menyimpannya, mengunci sepeda motor, merapikan pakaian—semua kulakukan dengan gerakan yang kurasa sangat-sangat amat lambat, sementara gerimis mulai menderas. Dalam kepala, aku memaki diriku sendiri. Selang beberapa detik, baru kulangkahkan kaki.

Kau tahu, Miim—melihat teman-teman kuliahku berdiri di meja penerima tamu adalah hal kedua yang sanggup meredakan gugupku 30%, setelah 40% yang pertama reda setelah aku memutuskan untuk tetap berangkat karaena meniatkan diri utnuk menghadiri undangan lillaah. Aku tak sedikitpun memperhatikan sekitarku, di mana ternyata para ustadz juga berdiri di barisan penerima tamu—aku menyadarinya setelah aku duduk dan berusaha mencari temanku ke arah sana. Itu artinya, begitu masuk tadi aku hanya fokus pada para ustadzah dan abai terhadap siapapun di belakangku. Separah itukah? Nasib baik lingkungan ini begitu mendukung : aku tak harus menyapa dan tersenyum pada semua orang.

Miim, ada hal yang lebih menggelikan—entah menggelikan atau sebenarnya memprihatinkan—seorang wanita tiba-tiba sudah duduk di belakangku dengan membawa empat atau lima orang anaknya (aku lupa), menyapaku.

"Ini Citra, Kan?"

Aku sungguh-sungguh terdiam, berusaha mengendalikan ekspresi, mulai tersenyum, dan aku tahu dia menyadari itu meski hanya melihat senyum itu dari mataku.

"Iya, Bu. Benar." Jawabku. Miim, beliau adalah isteri seorang Ustadz yang mengajar di kelasku (kutahu belakangan setelah beliau memperkenalkan dirinya).

Setelah itu, Miim, setelah perkenalan itu, aku bahkan lupa apa yang sebenarnya terjadi. Yang tersisa di ingatanku adalah aku menarik diri, mendekat pada temanku yang duduk di sebelah beliau, mulai mengobrol dan mengabaikan beliau. Setelahnya, tahu-tahu aku makin menjauh, bergerak menuju gerombolan teman-temanku yang menjadi panitia acara, dan duduk merapat di dekat salah satu dari mereka. Miim, entah mendekat, entah bersembunyi, kurasa itu adalah tindakan terkonyol yang kulakukan hari itu. Lagi-lagi, terlambat kusadari kemudian—bahkan setelah acara usai.

Ada satu hal mencolok yang membuatku kesal pada diriku sendiri : tanganku masih gemetar, jantungku berdegup kencang (padahal di satu jam pertama acara sudah mereda).

Kambuh lagi. Batinku. Phobiaku datang lagi. Aku kabur lagi dari orang-orang baru yang sebelumnya tak kukenal. Dan lagi, logikaku memaki diriku sendiri. Aku benar-benar memaki diriku.

Tak terasa, Miim, setahun belakangan—mengajar ternyata bisa menjadi salah satu healing teraphy selain menulis. Ini juga kusadari setelah satu malam aku merenungkan apa yang terjadi padaku setahun belakangan sampai penyakit itu sama sekali tak kurasakan. Kewajibanku untuk mengajar sudah seperti obat penenang—aku tahu itu tak menyembuhkan, tapi setidaknya setahun belakangan aku merasa baik-baik saja, aku merasa sembuh. Bukankah perasaan yang baik bisa membantu proses penyembuhan?

Berkali-kali, kupikirkan lagi, Miim. Lama aku merenung : kenapa phobiaku kambuh lagi setelah sekian lama menghilang? Bukankah aku masih memiliki satu healing teraphy—mengajar? Bukankah mengajar artinya aku juga harus menghadapi orang-orang baru setiap semester—bukan satu atau dua, bahkan satu kelas yang jumlahnya hingga dua puluh lima orang! Lalu kenapa?

Aku berhenti menulis sejak masuk semester akhir. Jawaban ini kudapatkan setelah seorang perempuan menyuruhku mengaktifkan instagram lagi. "Kau sudah harus menulis lagi. Aku tahu obatmu ada di sana. Kau senang berbagi. Kau merasa bahagia saat bisa berbagi dengan orang lain—setidaknya teman-temanmu sendiri, atau bahkan hanya untuk dirimu sendiri. Kau tak menulis di blog lagi, lalu apa media pelarianmu? Kau bahkan tak berbincang dengan dirimu sendiri." Begitu pesannya.



Atas alasan itu, aku membuka instagramku lagi. Belajar Berani Berlayar. Aku memberanikan diri untuk menulis lagi, Miim. Rasanya agak sedikit mengerikan karena media sosial adalah tempat konsumsi publik. Kau doakan saja agar aku tak menulis yang aneh-aneh, tak menulis sesuatu yang membuat orang lain baper atau malah jadi benci dan merasa digurui. :D

Sampai sekarang, Miim. Aku masih belajar mengenali diriku, aku masih belajar mengendalikan hatiku, aku masih belajar menyembuhkan diriku sendiri. Doakan aku, Miim. Konon katanya doa seseorang yang shalihah akan menembus pintu langit tanpa ketukan. Kuharap itu darimu.

Sebagai penutup, Miim, aku punya dua kabar bahagia yang ingin kusampaikan.
Satu ; kau menulis lagi.
Dua ; kau ada di Medan lagi.

Rumah Singgah, 10 November 2018
Miim, adakah yang hilang dari diriku?

Sumber Gambar : LineDeco








No comments: