Friday, 4 March 2016

Ala Bisa Karena Terpaksa

"Apa alasan kamu mengundurkan diri?"

Aku yang sejak tadi tertunduk membaca buku terkejut saat Ustadzah mempertanyakan hal itu padaku. Ah, padahal kupikir hal itu takkan dibahas lagi karena sudah jelas penyebab aku belum bisa berpartisipasi untuk saat ini. Seminggu ke depan, beberapa orang dari kami harus menjalani micro-teaching untuk persiapan mengajar santri baru. Itu artinya, seminggu ke depan bakalan jadi seminggu paling seru sepanjang proses belajar-mengajar. Seru, menantang, juga lumayan buat olahraga jantung level sedang.




"Cape banget ngerjain skripsinya ya?" Tanya Ustadzah lagi sembari berusaha menatapku.

"Na'am, yaa Ustadzah." Sahutku dengan muka polos. Enggak juga, sih, sebenernya. "Eum.. kalau malam.. agak-agak.." Ah. Kalau di depan Ustadzah, selalu saja lidahku kelu. Ini bukan soal lari dari amanah, justru ini tengah berusaha menuntaskan satu amanah utama, perlahan tapi pasti (alibi hehe).

"Ah.. oui, je comprends. Masalah timing aja, kan?"

"Hm.. oui." Sahutku singkat sambil senyum-senyum simpul menirukannya mengucapkan kata 'ya' dalam bahasa Perancis. Sebenarnya tak masalah bagiku untuk mengajar di malam hari, apalagi hanya sampai pukul sepuluh atau paling lama pukul setengah sebelas. Hanya saja aku memang sedang mengejar waktu untuk menyerahkan hasil analisis penelitianku. Bagiku, awal pagi dan lepas isya' sebenarnya merupakan golden time untuk memaksa pecahan ide di kepalaku keluar. Namun, tak masalah juga kalau harus digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat, terlebih itu memang sebuah kewajiban sejak manusia memutuskan untuk belajar.

"Oke. Ga masalah. Masih ada jadwal untuk pagi dan siang, kok." Dan lagi, aku cuma bisa pasrah sambil pasang senyum simpul yang paling manis (maksa. Haha). Hanya ada dua tempat aku pasrah pada keadaan dan membuang kadar keras kepalaku; rumah ini dan sebuah organisasi.

"Kamu? Kenapa kamu ga mau ikut?" Pandangan Ustadzah kali ini tertuju pada seorang santriwati seperjuanganku yang sejak awal memang memutuskan untuk tidak mengajar. Barangkali bisa berubah nanti, kalau sudah siap, pikirku.

"Eum.. saya terlalu gugup, Ustadzah. Nanti santrinya ga ngerti, lagi, apa yg saya jelaskan."

"Nah. Bagus. Saya juga dulu seperti kamu, Nak. Tapi kadang memang kita harus dipaksa untuk jadi bisa. Saya juga dulu awalnya karena terpaksa, kok. Ala bisa karena terpaksa."

"Tapi, kan, Ustadzah. Nanti jadi gimanaaa gitu. Rumit lah pokoknya, Ustadzah."

"Khayrukum man ta'allamal Qur'aan wa 'allamah. Terus kamu kapan mau jadi sebaik-baiknya? Ayolah, Nak. Fastabiqul Khayraat. Ummat butuh kamu."

Nah, kalau sudah dikatakan seperti itu, para santriwati bisa jawab apa? Mau cari alasan? Satu hadist saja membungkam, apalagi ditambah satu prinsip.
Malam ini, ragu itu sirna, dan entah mengapa selalu bertambah kekaguman terhadap Sang Ustadzah. Karena kita butuh dakwah, kita butuh ummat, ummat butuh kita. Bukan hanya para Ustadz/Ustadzah, bukan hanya para santri, melainkan pada setiap diri, sejak awal diberi beban sebagai pengemban amanah dakwah. Setiap diri adalah da'i, bukan karena gelar da'inya, tapi karena potensi akhlaq baik dalam qalbun salim yang dapat ditularkan pada ummat. Jika bukan pada ummat, minimal pada diri sendiri dan keluarga terdekat.

Butuh kekuatan? Tenang, teman-teman dan guru-guru yang shalih/shalihah bisa menjadi penopang ragumu. Semangat. :)

No comments: