Tuesday, 15 December 2015

Baper : Jangan Gantungkan Aku dengan Tulisanmu

Dear, Readers; teman-teman sejawat dan rekan-rekan sesama pengembara, atau yang lagi nyantai-nyantai di rumah maupun yang sibuk jadi workaholic di kantoran, yang lagi pengangguran atau yang sibuk mempersiapkan masa depan, di pagi hari yang terlalu dini ini Mbak Chili ingin menyampaikan sesuatu yang bersifat urgent. Maafkanlah kalau posting-an kali ini akan terasa sok serius tapi mungkin bisa jadi angin segar bagi yang jenuh dan terlanjur mumet membaca tulisan yang gitu-gitu mulu; abstrak, absurd, ga jelas dan ga tau kemana arahnya. tapi semoga tulisan ini bisa jadi klarifikasi terhadap apa yang selama ini.. mengganjal dan buat orang bertanya-tanya.


First of all (kaya lagi pidato zaman SMP dulu mwahahaha :D *pasang mimik serius*), saya mau minta maaf buat para penulis yang 'jujur' dalam berpuisi. Kedua, saya minta maaf buat orang-orang yang baper karena tulisan-tulisan saya (kecuali beberapa tulisan yang saya sebutkan namanya secara gamblang ya). Ketiga, para penulis senior yang karena kesabarannya dalam berbagi ilmu dan pengalaman bisa selalu buat saya melting, sadar diri, bahkan sampai mematahkan prinsip sendiri.

"Tak ada gading yang tak retak", seperti inikah rasanya? Sesempurna apapun saya berusaha menuliskan kalimat-kalimat yang fiktif belaka, nyatanya ada beberapa pihak yang merasa itu benar-benar nyata. Maafkanlah kelemahan saya dalam menulis. Saya suka novel, buku yang berbau fantasi dan juga puisi. Entah karena pengaruh khayalan tingkat tinggi saya yang bisa nyasar sampai ke komet atau ke planet tanpa nama di luar galaksi Bima Sakti ini, entah karena gaya bahasa saya yang--sangat-sangat saya akui--begitu berlebihan, entah mungkin karena ini memang zamannya 'baper' yang memang lagi booming, entahlah. Tapi semakin banyak yang bertanya, "Kara itu sebenernya siapa sih?", "Kara itu nyata nggak sih?", "Kometchameleon itu sebenernya panggilan lo untuk siapa sih, Citra?", dan beberapa pertanyaan lain yang sifatnya hampir mirip: menanyakan apakah tokoh-tokoh itu nyata atau tidak.

Jika dipandang dari sisi penulis, dengan segala kerendahan hati tanpa bermaksud apapun, otomatis saya merasa berhasil menghidupkan mereka dan kehidupan mereka dalam benak pembaca. Tapi dari segi etika menulis, saya kok, jadi merasa gagal yak? Atau ini perasaan saya aja? Ya bisa aja kan, saya baper, secara zaman udah berubah jadi zaman baper. *eh*

Pernah dalam sebuah forum, seorang pemateri mengatakan, "Jujurlah dalam berpuisi. Jangan terlalu sering membuat puisi yang tak tertebak siapa tokoh di dalamnya. Kamu, dia, mereka--berikut atribut-atribut yang membuat orang lain baper dan berusaha menebak-nebak;
#"itu gue bukan, ya?"
#"Maksud dia siapa sih?"
#"Tadi dia ngabisin waktu sama gue, berarti itu tulisan buat gue. Melting gue." atau jadinya bakalan gini,
#"satu-satunya makhluk yang deket sama dia kan gue, nggak salah lagi, ini kode buat gue nih!"
Inilah yang dimaksud dengan symptomps berbahaya sebagai efek dari tulisan yang sangat-sangat ngabstrak itu. Belum lagi, akibat tulisan-tulisan abstrak itu kemudian jadi kena dosa 'memperpanjang angan-angan'. Di sini saya murni merasa bersalah. Jujur, waktu dengar materi itu, rasanya kaya lagi digaplok. Jadi muhasabah diri sendiri, selama ini tulisan saya kebanyakan begitu. Sebagai orang yang suka nulis dan belum terlalu berpengalaman dalam ilmu kepenulisan, saya sendiri belum terlalu paham--sampai sejauh manakah batasan-batasan tulisan abstrak itu?

Dalam hal ini, tentu ada pihak yang keberatan. Saya yang memang dasarnya plin-plan pun saat itu berada dalam tanda tanya besar. Akan lebih baik jika bisa meneruskan menulis, daripada menyatakan cinta langsung yang berujung pada kasus pembaperan terencana atau pacaran tanpa pernyataan (Nah Lo! Bahaya!). Sementara dengan menulis akan bisa mengurangi tingkat stress di samping terlatihnya kemampuan dalam meramu tulisan, apalagi puisi yang memang dinilai bukan hanya pada maksud yang bisa tersampaikan tapi juga pada diksinya. Tapi, "kecanduan menulis sesuatu; puisi, status, tulisan atau apapun yang membuat orang baper ternyata merupakan indikasi jiwa yang terganggu (Gimana nggak jleb kalo ternyata benar seperti itu? :D).

Dari sini saya hanya berusaha menerapkan bagaimana baiknya saja. Inginnya tak berlebihan meskipun--jujur--saya masih keseringan merasa gagal, masih sering buat orang baper, masih sering buat orang menebak-nebak apakah tulisan, status, atau puisi itu berkaitan dengan yang membaca atau tidak, sampai pada pertanyaan siapakah kiranya makhluk bernama Kara, Ariana, atau Kometchameleon itu.

Tak jarang saya speechless sendiri liat tulisan saya, sambil bilang ke diri sendiri, "Chili, tulisan lo lebay. Status lo lebay. Siapa lagi yang jadi korban?" Tapi, saya kok ngerasa nggak mau terkekang? (*mulai egois*)
Sampai akhirnya, pada suatu hari yang cerah dan berbahagia, saya beranikan diri minta izin pada salah satu senior untuk memajang statusnya di timeline saya. Sebuah quotes yang ketika pertama kali membacanya membuat saya berpikir, wah, bagus nih. Alhamdulillaah jadi punya sedikit senjata untuk melawan perasaan nggak enakan saya kepada yang ngga sengaja maupun yang terpaksa membaca tulisan saya.

"Jangan kau salah arti melihat kami, saat kami menulis maka bercampur antara fiksi dan non-fiksi. Kami yang menulis jangan kau yang baper." --Intan Maulina, 2015

Dan quotes ini membuat saya berusaha menyelami maknanya lebih dalam lagi, "bener juga. Harusnya yang paling jadi korban baper ya saya sendiri sebagai penulis. Hehe..."

Saya suka nulis cerpen dan puisi. Isinya memang bener-bener bercampur antara fiksi dan non-fiksi.  95% fiksi dan sisanya bisa jadi non-fiksi dan campuran. Misalnya dalam tulisan yang berjudul Retrouvailles, di catatan kaki saya jelaskan bahwa seluruh rangkaian perjalanan memang benar yang saya alami dan saya rasakan, sementara paragraf awal pembuka asli fiksi, karena nggak mungkin dong, temen saya yang bernama Kometchameleon benar-benar sebuah Komet?

Saya juga suka buat postingan yang isinya kira-kira tentang saya yang lagi ngobrol sama seseorang nun jauh di sana bernama Kara, atau Ariana, atau apapun nama-nama fiksinya, untuk hal ini saya mohon maaf. Keseringan ide dalam kepala mengalir hanya dalam sebuah paragraf singkat dan saya belum punya rentetan khayalan yang bisa membuat ide kecil itu lahir sebagai sebuah cerpen. Karena itu akhirnya saya sering menuliskannya sebagai status. Kara dan Ariana, meskipun kedua tokoh ini sebenarnya terinspirasi dari dua manusia yang benar-benar ada di dunia nyata, lantas tak berarti kisah kehidupan Kara dan Ariana benar-benar nyata. Saya selaku penulisnya ya ngarang. Hehe. Maafkeun.

Ada yang lebih penting lagi, saya suka bercanda, dan bisa jadi candaan saya buat baper. Saya suka kasih komentar jenaka, dan kemungkinan itu juga buat baper. Saya punya segudang unek-unek yang saya share, dan bisa jadi itu juga buat baper. Maafkanlah saya. Fiksi itu tetaplah pengembangan ide dari khayalan meski kejadiannya memang apa yang sering kita alami sehari-hari. Apabila ada kesamaan tokoh, kejadian, dan tempat, tetap saja dalam tulisan fiksi, hal-hal tersebut tetap dianggap fiktif belaka.

Satu solusi cerdas untuk mengakhiri kebingungan saya dari para senior: "Etika yang baik dari seorang penulis adalah menjelaskan kepada pembaca tentang bagian mana yang merupakan fiksi dan bagian mana yang memang kenyataan."

Suber Gambar : LineDeco

No comments: