Banyak sekali kisah yang ingin kuputar ulang untukmu. Bukan hanya empat tahun silam, tapi juga tujuh tahun silam, sembilan tahun silam, sepuluh tahun silam. Dan ketika menuliskan ini aku baru sadar bahwa sepuluh tahun itu singkat, dan waktu mengantarkanmu ke sana dan aku ke sini. Apa yang selanjutnya kau baca akan menyita pikiranmu, menuntut konsentrasi dan perhatian lebih darimu, hanya agar kau bisa mencerna apa yang ingin kusampaikan. Tulisan ini tanpa slide, tanpa soundtrack yang mendukung, apalagi film pendek yang bisa memudahkanmu mengingat. Untuk itu, tulisan ini butuh perhatian dari pikiranmu. Juga hati.
Aku datang untuk mengajakmu pulang ke satu per satu tahun yang sudah kusebutkan tadi. Kau siap?
Sepuluh tahun lalu, takdir menuntun langkahku pada sebuah kelas di sudut sekolah menengah pertama—sebuah tempat dimana kita bertemu untuk pertama kali. Kau dan dia, dua wanita yang hingga kini jadi makhluk paling kekinian, mengikuti perkembangan zaman dan segala isinya. Aku? Aku juga. Setiap manusia juga. Yang membedakan adalah jalur kekiniannya. Haha. Setahun pertama mengenalmu, semuanya terasa biasa saja. Sama seperti berteman dengan yang lainnya. Aku dengan les bahasa inggrisku, kau dengan segala kesibukanmu.
Sembilan tahun silam, pada tahun kedua, kita memutuskan untuk berada pada satu meja, dan aku mulai mengenal tawa. Kau dengan segala pernak-pernik dan lika-liku hidup yang jauh lebih rumit dariku—hingga kini—masih jadi manusia paling “easy going” yang pernah kukenal. Masalah? Lewat. Aku yang saat itu tak mampu melihat jelas ke papan tulis selalu duduk di sebelah kirimu, agar mudah membaca isi catatanmu untuk kusalin di bukuku. Barangkali kadang kau sebal terhadap kelakuanku yang terlihat seperti makhluk yang hobi mencontek—tulisan, bukan ujian. Haha. Tapi kau tetap kau, yang punya stok “easy going” berlimpah ruah. Tahun ketiga, kita tetap berada pada satu meja. Sungguh, yang paling sering kurasakan adalah sebal, kesal, dan jenuh terhadap sikapmu yang sanggup berteman dengan siapa saja. Berbanding 180 derajat dari aku yang cenderung menjauhi lelaki. Sikap “easy going” yang kau miliki sering menyeretku untuk berteman dekat dengan mereka. Tapi kau, makhluk langka yang punya seribu satu jurus ampuh untuk cuek terhadap masalah hidup, nyatanya adalah satu-satunya makhluk yang paling mampu beradaptasi dengan alien sepertiku. Jadilah, pada tahun ketiga aku tetap bersamamu. Kau—satu-satunya yang mengajakku berdiskusi, mengajakku ke kantin, mengajakku les matematika, menampung keluh kesahku, mengerti seluk-beluk karakter abstrakku, memahami segala bentuk paranoid dan phobia-ku, dan bersedia tulus menjadi temanku, tentu saja! Sejak tahun kedua hingga akhir masa sekolah menengah pertama, segalanya berubah. Tak ada lagi kesibukanmu atau kesibukanku, yang ada adalah kesibukan kita, kegiatan kita, praktikum kita, tugas kelompok kita, segalanya tentang kita. Ketahuilah, tempat itulah yang kukatakan selalu menawarkan udara surga bulan juni setiap paginya. Tempat yang dikelilingi Aleurites moluccana dan deretan Areca catechu serta rumput hijau. Tempat yang selalu kurindukan setiap tahunnya. Tapi hari-hari kini berbeda, bahkan angin bulan Juni tak pernah sanggup lagi membawa suasana sepuluh tahun lalu ke tempatku. Ah iya, pemanasan global. Angin tak pernah lagi dingin.
Tujuh tahun silam, kita berada di sekolah baru. Aku dan kau, masih sama—seperti dulu, berada pada satu meja. Kau benar-benar mengerti bahwa aku tak mudah duduk dengan orang-orang baru di sekitarku. Kau masih setia menjadi mataku, dan aku menghabiskan setahun pertama di dekatmu, ikut kegiatan ini-itu denganmu, ikut les ini-itu denganmu, satu kelompok denganmu, kau mengerjakan praktikumku dan aku yang menggambarnya untukmu. Kolaborasi yang baik, bukan? Haha. Masih seperti dulu, bercanda denganmu, curhat dan berkeluh-kesah denganmu, marah, kesal dan kecewa juga denganmu. Kalau bukan, pada siapa lagi? Ah, ya. Kita bertujuh. Aku, kau, dua wanita dan tiga pria. Sekelompok makhluk yang cukup terkenal di sekolah, tak hanya pernah berkolaborasi dengan senior, tapi juga bersaing dengan sekelompok senior lainnya. Di tahun itu, kau sempurna mengerti segalanya tentangku, aku sempurna memahami seluk-beluk tentangmu. Pada karakter diamku, kau sebutkan sebuah kenyataan yang orang lain tak pernah menduga. Kau membacaku.
Tahun berikutnya, aku pindah sekolah. Kehidupanku mulai kompleks. Terpaksa beradaptasi dengan suasana baru, dan aku mulai pakai softlens sesekali atau kacamata—sebab mata lainku tertinggal bersamamu. Sebab dunia jadi semakin abstrak, semakin tak terbaca. Waktu yang paling kunantikan saat itu adalah kepulangan. Jika saat itu tiba, kau akan jadi korban pertama untuk menyaksikan mimik wajahku yang jadi jauh lebih abstrak daripada kesalahan kombinasi warna. Kau tumbuh semakin dewasa dan bijak, dan aku tetap jadi makhluk yang tak pernah mau tumbuh dewasa. Kau punya posisi setara dengan saudara kandung dan sepupuku. Dua tahun di sekolah lain kuhabiskan tanpamu. Menggali ilmu, mengejar segala ketertinggalan, jatuh-bangun juga tanpamu. Dan masalah hati adalah sekumpulan cerita yang hingga kini masih tersimpan rapat di benakku. Apa aku harus bercerita padamu? Kalau iya, dapat kupastikan kau akan menggelengkan kepalamu, atau barangkali kau hanya akan mengangguk pasrah—tahu kenyataan bahwa aku menyimpan segalanya, tanpa bercerita pada teman-teman dekatku di dekolah itu. Apa yang terbaca orang lain, jauh berbeda dari ada yang kurasakan. Hingga masa akhir sekolah menengah atas, aku pulang, dan kau—seperti biasa—jadi rumah kedua setelah kedua orangtuaku.
Empat tahun lalu, kita sadar kita mulai menua. Aku resmi jadi mahasiswi baru di kampusku, dan kau resmi jadi mahasiwi baru di kampusmu. Dan waktu menyeret hidup ke pusaran yang lebih rumit dari yang pernah kita bayangkan. Segalanya tak lagi sama. Aku menemukan jalanku, kau menemukan jalanmu. Dan waktu membawamu pergi—jauh—ke pulau seberang. Dalam sebuah percakapan via telepon, kau bercerita tentang hidupmu, kotamu, pendidikanmu. Aku bercerita tentang penelitian akhir studiku. Kita mengenang segalanya—tentang dinamika kehidupan, tentang waktu yang berjalan, tentang hati dan sekelumit rahasia di dalamnya, tentang persahabatn kita. Dan aku masih bercerita tentang paranoid dan phobia yang kurasakan. Kau tertawa. Aku tertawa. Kita menertawakan kehidupan. Tawa yang hambar.
Kadang masih terlintas dalam kepalaku, kira-kira kapan waktu yang tepat untuk kita kembali bertemu. Dimana? Jika bukan saat bahagiamu, barangkali saat bahagiaku. Itu juga kalau kita tak sedang saling memperjuangkan kepentingan dan ambisi pribadi lantas mengabaikan peristiwa berharga kita. Itu sebabnya aku menuliskan ini untukmu. Karena aku masih tak menemukan jawaban atas pertanyaanku: apa kita masih punya waktu? Sampai kapan kusimpan suratku?
Karena ini janjiku, di hari kita akan berpisah—empat atau tiga tahun lalu—bahwa suatu hari kelak kau akan membaca isi surat yang pernah kutulis untukmu dalam file yang hingga kini masih ada tapi aku lupa sandinya. File yang pernah hilang dalam komputer yang rusak namun terselamatkan karena masih utuh dalam flashdisk. File yang terjaga, karena ada janjiku di dalamnya. Tulisan ini adalah janji. Barangkali kau lupa, tapi terimakasih sudah menunggu—aku menepati janjiku.
Tak banyak yang kutulis untukmu dalam surat itu, hanya satu kalimat yang menahun hidup dan tumbuh bersama waktu : “terimakasih sudah bersedia menjadi mataku..”
Selamat ulang tahun. Selamat menua. Aku rindu.
Img : LineDeco

No comments:
Post a Comment