"Sungguh, kau tak perlu membaca kisah ini seperti yang orang lain lakukan. Kaulah yang lebih dahulu menghafal mati semua rasa yang ada dalam kisah ini sejauh perjalanan panjang yang kau tempuh. Ini tentangmu..." Suara itu menggema memenuhi segumpal darah bernama hati. Sepertinya itu suaraku.
Tanganku masih berusaha menutupi layar laptop di hadapanku. Begitu, selalu saja, lagi, kau ingin tahu apa yang sedang kukerjakan.
"Mana sih, sini. Ibu mau liat." Kau tersenyum menggodaku. Seperti biasa, aku tahu tingkat kecerdasanmu takkan pernah menua layaknya usia yang kini sedang kau tapaki. Bagaimana dengan rasa penasaranmu? Persis. Sama seperti tingkahku ketika bocah dahulu, selalu ingin tahu segala hal.
"Nanti, Bu. Nanti, yaaa. Kalau sudah diterbitkan, boleh deh dapet bukunya gratis plus tanda tangan pake foto penulisnya lagi. Hehehehehe..." Kau masih sama, tak pernah berubah. Aku juga begitu. Aku tahu, kaulah yang lebih dahulu menghafal setiap jengkal tingkah lakuku. Bahkan ketika aku sendiri tak mampu memahaminya. Dan aku, masih sama. Aku tak pernah berubah, tak pernah tahu kapan akan berubah. Di depanmu, aku tak pernah percaya diri menunjukkan karyaku meski hanya sebuah titik.
"Ah, gitu mulu mah tiap Ibu mau liat. Mana lukisan yang di kanvas kemaren? Sini, Ibu liat. " Kau memang selalu berusaha memaksa, dan setiap jurus paksaan yang kau lontarkan itu memang akhirnya jadi godaan lucu bagiku.
"Hah? Apa? Lukisan? Yang mana? Kapan bilang mau ngelukis?!" Aku ternganga. Gagap.
"Idih. Kemaren bilang gitu, mau ngelukis di kanvas, nggak di kertas lagi. Mana sini, cepetan! Biar Ibu liat!" Kau, lagi, selalu begitu. Padahal kau tahu tabiatku tak pernah mau menunjukkan karya-karya itu.
"Eh, emang pernah bilang gitu? Masa sih?" Aku menyadarinya sejak kecil, dan kau pun tahu itu. Setiap kali kau memperhatikanku melukis atau menulis, aku menutup semuanya sambil mengerutkan dahi tanda tak setuju.
"Manaaaa... Sini, cepetaaaaan..." Ah, kurasa hari ini kau agak berubah. Kali ini paksaanmu terasa cukup serius. Dulu, kau akan berlalu sambil tersenyum rapat, memahami bahwa anakmu adalah seorang pemalu - bahkan - saat di depan ibunya sendiri. Kali ini kau memang tetap tersenyum, bahkan lebih manis. Senyuman itu penuh arti, Bu. Penuh arti, bahwa kau - dengan segala upayamu - akan mulai menggelitiki aku sampai aku menyerah.
"Eh.. Oh iya. Bentar. Aduh, mana ya?! Ibu sana dulu, biar gambarnya disiapin. Cuman lukisan langit aja, kok. Belum selesai semua.. Iya, gitu kira-kira..." Gubraaakkk! Kalau sampai ketahuan... Lagi. Paranoid tak beralasan, seperti biasa.
"Ah, hayoooooo.... Ada yang disembunyiin yaaa..??" Kali kau benar-benar serius membuatku menyerah mempertahankan karakter yang kubawa sejak kecil.
"Nggak. Nggak gitu loh, Bu. Tapi kan, malu.." Alamak. Keceplosan. Aku tak bisa menghindar lagi.
"Mana mana manaaa..."
"Ini... Cuman sketsa gagal, kok. Hahahaha.." AKu menyeringai tanpa nyawa. Berharap agar lukisan itu tak keluar dari selipan kertas-kertas di dalam sketch-bookku.
"Ah masaaaa..??? Cuman ini? Yang beneeerr..." Astaga. Harapan terakhirku, jangan pernah mencoba menunjukkan diri, wahai lukisan. Aku bisa diinterogasi habis-habisan jika kau keluar.
"Jadi, maksud Ibu yang mana?" Aku pura-pura bersikap tenang. Tapi yang namanya ibu, setenang apapun sikapku akan selalu terbaca olehmu bahwa aku sedang mati kata.
"Kemarin bilang mau ngelukis di kanvas? Kanvas yang baru beli kemaren mana?" Alhamdulillaah, setengah tak percaya - setengah khawatir kalau kau sebenarnya telah mengetahui sesuatu.
"Oh.. oh. Ini, naah. Tadaaaaa...!!" Ini ekspresi yang dibuat-buat. Sungguh, seumur hidup, aku tak pernah punya ekspresi semacam ini. Optimis dan ketakutan bersatu dalam sebuah kata 'Tadaaaaa...!!'.
"Ah, kok cuman langit?"
"Lah, kan udah dibilang. Lukisannya yang di kanvas belum selesai. Belum ada waktu mau nyiapin, Bu.." Sebenarnya kali ini aku sudah sedikit tenang karena bisa jadi setelah ini kau akan berhenti merayu. Tapi, mataku, sampai kapanpun kau takkan pernah bisa menyembunyikan gelagat mencurigakan itu.
"Mana lagi yang di buku gambar?? Sini Ibu liat. Jangan disembunyiin. Sini, hayooo..." Glek. Pertahanan gagal. Aku gagap tanpa suara.
Rumah Musafir, 24 Dzul Hijjah 1435 H.
Hujan, tanah ini sedang merindukan saat-saat riuh suara haru dan sejukmu merengkuh penuh rindu. Selamat pagi. :)
5 comments:
Mampir ke blog saya yuk
www.syiffacerpen.blogspot.com
bagus kak ceritanya :) di bionya kita gak jauh beda, suka backpacker suka dandelion hhe. salam kenal aku afifah. mampir ke blog aku ya kak makasih http://nurafifahhaling.blogspot.com
@Syiffanis Amaar: Terimakasih Mbak Syiffa, blognya sudah saya kunjungi, alhamdulillaah, bagus2 cerpennya. Semangat menulis terus ya, Mbak. :)
@nurafifah haling: Terimakasih, Mbak Nurafifah. Salam kenal hehe. Alhamdulillaah sudah saya kunjungi blognya. Blognya Kereeeeeen... ^_^
Post a Comment