Akhirnya suratmu muncul lagi.
Hei, Cometchameleon, rasanya ingin melonjak karena begitu bahagia saat menemukan suratmu, tapi malah berpikir itu berlebihan—apalagi tengah malam saat semua mata di rumah telah terlelap. Akhirnya satu-satunya yang bisa kulakukan hanya menyudut di pintu dapur, tersenyum-meringis sendiri membaca suratmu, persis anak remaja yang sedang berbunga-bunga. Ingat baru saja kemarin aku menanyakan keadaanmu pada seorang wanita di seberang sana. Dia bilang kau baik-baik saja.
Bahagia ini tak sesederhana kelihatannya, Cham, sebab kemunculan suratmu jadi tanda bahwa radarku masih bisa diperbaiki. Kau tahu—berbulan-bulan belakangan ini aku sibuk bolak-balik dan berulang kali membuka kotak surat, berharap menemukan surat darimu. Tapi tak ada apapun kecuali beberapa semut yang berteduh karena cuaca yang memang begitu labil. Hampir putus asa, bahkan aku berpikir mungkin sudah saatnya aku menghubungimu pakai ponsel saja—seperti orang-orang zaman sekarang, modern, bukan pakai radar telepati antik ini. Tapi entah kenapa tak juga kulakukan, sekalipun—sama sekali tak kulakukan. Barangkali alam bawah sadarku masih punya keyakinan kalau radar yang biasa mengirimkan pesan ini hanya sedang koma, bukan mati.
Cham, saat menulis ini, aku tersenyum sendiri. Radar itu masih berfungsi, bukan? Meskipun butuh waktu berbulan-bulan sampai suratmu datang. Tapi tak mengapa, yang penting masih bisa dipakai, jadi aku tak perlu pakai ponsel untuk menghubungimu. Aku ingin mendengar kisahmu selama kau menghilang. Iya, aku merasa kau menghilang, Cham—sejujurnya, tapi aku tak yakin kau pindah ke galaksi lain. Barangkali kau sedang istirahat, pikirku, jadi kubiarkan saja sampai rindu dalam diriku menggedor-gedor pintu hati untuk mencarimu.
Hei, Cometchameleon, rasanya ingin melonjak karena begitu bahagia saat menemukan suratmu, tapi malah berpikir itu berlebihan—apalagi tengah malam saat semua mata di rumah telah terlelap. Akhirnya satu-satunya yang bisa kulakukan hanya menyudut di pintu dapur, tersenyum-meringis sendiri membaca suratmu, persis anak remaja yang sedang berbunga-bunga. Ingat baru saja kemarin aku menanyakan keadaanmu pada seorang wanita di seberang sana. Dia bilang kau baik-baik saja.
Bahagia ini tak sesederhana kelihatannya, Cham, sebab kemunculan suratmu jadi tanda bahwa radarku masih bisa diperbaiki. Kau tahu—berbulan-bulan belakangan ini aku sibuk bolak-balik dan berulang kali membuka kotak surat, berharap menemukan surat darimu. Tapi tak ada apapun kecuali beberapa semut yang berteduh karena cuaca yang memang begitu labil. Hampir putus asa, bahkan aku berpikir mungkin sudah saatnya aku menghubungimu pakai ponsel saja—seperti orang-orang zaman sekarang, modern, bukan pakai radar telepati antik ini. Tapi entah kenapa tak juga kulakukan, sekalipun—sama sekali tak kulakukan. Barangkali alam bawah sadarku masih punya keyakinan kalau radar yang biasa mengirimkan pesan ini hanya sedang koma, bukan mati.
Cham, saat menulis ini, aku tersenyum sendiri. Radar itu masih berfungsi, bukan? Meskipun butuh waktu berbulan-bulan sampai suratmu datang. Tapi tak mengapa, yang penting masih bisa dipakai, jadi aku tak perlu pakai ponsel untuk menghubungimu. Aku ingin mendengar kisahmu selama kau menghilang. Iya, aku merasa kau menghilang, Cham—sejujurnya, tapi aku tak yakin kau pindah ke galaksi lain. Barangkali kau sedang istirahat, pikirku, jadi kubiarkan saja sampai rindu dalam diriku menggedor-gedor pintu hati untuk mencarimu.
Tiba-tiba aku jadi rindu dilempari pertanyaan dari para junior, “Kenapa Kakak tak pernah terlihat bersama Kak Cham lagi?” Ingat, Cham? Dulu kita pernah ditanyai seperti itu hanya karena beberapa waktu tak bersama. Tahu-tahu sekarang mereka juga senyap, mafhum—barangkali, setelah merasakan sendiri betapa keadaan kadang memang tega membuat orang-orang yang bersahabat jadi terpisah. Ini baru keadaan dunia, ya kan? Belum keadaan saat bumi gonjang-ganjing langit runtuh dan kita jadi anai-anai yang bertebaran. Jangankan ingat sahabat, ingat ibu yang mempertaruhkan nyawa saat melahirkan pun tidak, barangkali. Kecuali orang-orang yang bertakwa..
Cham, tiba-tiba aku jadi ingin makan waffle kesukaanku, sembari meneruskan dongeng tentang kita. Entah sejak kapan aku berhenti menulis dongeng, aku sendiri lupa, Cham. Sekian waktu lamanya tanpamu, kupikir kau begitu sakinah dalam keterasingan. Sampai-sampai aku berniat untuk menghilang juga, Cham. Hidup sendiri, banyak merenungi dosa dan menghabiskan waktu untuk menangkap pesan-pesan tersembunyi dari semesta raya. Tapi tak bisa juga, karena sisi lain diriku bilang kau akan datang suatu hari nanti. Kalau kau tak datang maka suratmu jadi penggantinya. Dan terjadi juga, kau menulis lagi.
Bagaimana hidupmu, Cham? Sama seperti umur, keterbelengguan itu memang cuma perasaan, tapi kurasa kita masih punya hak prerogatif untuk memerdekakan rasa. Tapi kau tahu sendiri, Cham, dari dulu aku memang keras kepala— untuk memaksa diri mencari kemerdekaan yang terlihat nyata. Kadangkala merasa sudah merdeka, meski lebih sering merasa tersesat dalam kemerdekaan yang sudah kuperjuangkan mati-matian. Iya, Cham, kadang aku pun merasa demikian, tersesat dalam kemerdekaanku sendiri. Ini bagian cerita sedih. Tapi manusia berproses, bukan? Kurasa Tuhan begitu baik, Cham, sabar menuntun manusia dari gelap menuju terang. Perlahan, lewat proses panjang yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Dan merdeka yang nyata adalah saat aku bisa berdamai dengan diriku sendiri, berdamai dengan takdir Tuhan..
Apa yang bisa kubantu, Teman? Mau kubuatkan secangkir cokelat hangat? Aku tahu secangkir cokelat hangat ini tak bisa membuat sebuah lubang agar kau bisa segera keluar dari labirin itu. Tapi.. ah, barangkali tersesat itu cuma tipuan akal, sedang jalan keluar ada di depan, tertutup rasa. Cham, kirimkan kabarmu. Kalau belum ada teknisi yang bisa memperbaiki radarmu, kirim saja surat. Jangan pakai ponsel. Khusus berbicara denganmu, aku tak ingin jadi makhluk modern. Semoga kau tabah, lebih tabah dari hujan bulan juni yang katanya paling tabah..
Senin, 27 Rajab 1438 H
Dalam ruang rindu.
Img :



3 comments:
Cuwiwit,
Ternyata radar anti itu ada ya
Cuwiwit,
Ternyata radar anti itu ada ya
Utk org2 tertentu, ada Bu Dosen. Haha
Post a Comment