Sunday, 17 November 2013

Hujan, kau ingatkan aku...

Lagi. Tiap rintik yang jatuh menghidupkan bumi. Menghidupkan gersang hati. Menghidupkan tandusnya harapan. Tiap tetes yang tiba dibumi disambut penuh haru oleh kulit bumi, jatuh, menari dan membuat percikan-percikan harapan pada tanah. Butiran-butiran air membasahi tanah yang begitu merindukan sapa kesejukan.

...
“Putri Luna menangis di balik jendela kamarnya. Sebuah kamar istana yang megah menawan kini terasa suram dan mencekam. Lukisan langit dan ilalang di seluruh penjuru kamar nan luas tak lagi dapat menentramkan hatinya. Kicau merdu burung-burung di sekitar jendela terasa ikut dirundung kesedihan yang sama...” Suaranya lembut dan meneduhkan, terasa penuh wibawa dan kebijaksanaan. Siapa saja yang mendengarkan ia membacakan dongeng pasti akan turut terbawa suasana.


“Lukisan langit, Bunda? Bagaimana bentuk lukisan langit? Bagaimana bisa lukisan langit memenuhi kamar?? Apa yang nyusun di dinding nggak capek ya, Bunda?” Nadanya penuh selidik dan rasa ingin tahu. Setiap kali bundanya membacakan cerita, ia pasti akan banyak menanyakan apa saja yang ingin ia ketahui.

“Lukisan itu tidak ditempel satu per satu di dinding, Nak. Ngelukisnya ya langsung di dinding, sepeti ngecat rumah, tapi yang ini dilukis.. kira-kira begitulah..” Bundanya berusaha memahamkan anaknya dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Putri kecil berusia lima tahun itu menyimak jawaban bundanya dengan bibir membentuk “ooo...”.

“Oke. Lanjut Bun. Eh. Tapi... nanti, kalau udah gede, adek mau ngelukis kamar adek sendiri ya, Bun. Adek mau ngelukis langit juga di dinding kamar adek, hihi.” Bundanya tersenyum manis mendengar harapan anaknya.

“Putri Luna mengeluarkan jemarinya dari jendela dan menampung rintik-rintik hujan yang jatuh membasahi bumi. Setidaknya hujan itu sedikit menyejukkan hatinya yang sedang gundah gulana memikirkan nasib yang tengah menimpanya. Ia akan dijodohkan dengan seorang pangeran yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Padahal, ia telah jatuh cinta pada seorang pemuda biasa yang pernah bertemu dengannya di taman Istana Langit. Kini ia merasa keputusan Raja bagai buah simalakama. Jika ia menuruti, maka ia takkan punya kesempatan untuk bersatu dengan pemuda pilihan hatinya. Namun, jika ia menolak, itu sama artinya tidak menghormati keputusan Ayahandanya...”

“Kasian Putri Luna ya, Bun. Nanti kalau adek udah gede, adek mau nikahnya sama pangeran adek aja ya, Bun..” Bundanya tersenyum mendengar celoteh putri kecilnya yang penuh imajinasi.

“Lalu.. Tibalah hari perjodohan itu. Pangeran datang penuh wibawa dan tunduk penuh rasa hormat pada Raja, Ratu, serta seluruh jundi kerajaan. Tak sedikitpun ia membedakan hormat pada jundi dan Raja. Seluruh penghuni istana tertegun dan kagum akan kesopanan Pangeran tersebut. Kemudian, Raja memanggil Putri Luna keluar dari kamarnya. Putri Luna berjalan tak semangat di koridor yang menuju ruang utama Istana. Ia dikawal oleh para dayang. Pakaiannya begitu cantik dan pasti akan memesona siapapun yang melihatnya. Ia mengenakan sebuah gaun yang terbuat dari ribuan kelopak mawar merah dan sepatu kaca yang juga berwarna merah. Ia turun perlahan dari tangga koridor dan menuju singgasana kerajaan bersama Raja dan Ratu. Kecantikan alaminya tetap terpancar walau ia sedang bermuram durja..”

“Bunda, nanti kalau adek menikah, adek mau pakai gaun mawar juga ya, Bunda.. hehehe” Putri kecilnya tersenyum centil menatap bundanya penuh harap.

“Duh, itu kan di dongeng, Nak. Kalau gaun mawarnya di dunia nyata dibuat dari kain aja, ya.. hehe”

“Lalu...” Lanjutnya. “Pangeran begitu terpukau melihat Putri Luna. Ia tersenyum dan menghampiri Putri kerajaan Langit sembari tunduk sopan dan memberi penghormatan. Lalu, pangeran menyerahkan sebuah lukisan Putri Luna dengan pemuda yang tengah berkenalan di taman kerajaan. Putri Luna begitu terkejut melihat lukisan yang diberikan kepadanya. Ia menatap pangeran penuh tanda tanya. “Saya Arthur, dari kerajaan Awan.”. Putri Luna kaget mendengar perkataan Pangeran Arthur. Ternyata, pemuda biasa yang dikenalnya di taman tak lain adalah Pangeran Arthur yang akan dijodohkan dengannya.”



“Wah....” Putri kecil yang merebahkan kepala di pangkuan bundanya ternganga mendengar kisah Putri Luna.

“Ternyata selama ini pangeran Arthur menyamar menjadi pemuda biasa untuk mengetahui ketulusan Putri Luna berteman dengan siapa saja. Akhirnya, Pangeran Arthur menikah dengan Putri Luna dan mereka hidup bahagia, selamanya...”

“Hhoaaaammp...” udara dingin membuat matanya terpejam di pangkuan bundanya. Ibu muda itu membelai lembut kepala anaknya dan tersenyum melihat wajah lugu anaknya terlelap.
...

Udara dingin terasa menggelitik sekujur tubuhnya. Ia menatap butir-butir hujan dari balik jendela. Embun di jendela mengingatkannya pada sebuah kisah masa kecil yang begitu bahagia. Saat hujan tiba, ia suka sekali bermain hujan di luar rumah. Di lain kesempatan, ia suka sekali tidur di pangkuan bundanya sembari dibacakan dongeng. Hujan punya kenangan sendiri dalam catatan kehidupannya. Ah, kini hujan membuatnya semakin merindukan Bundanya. Teramat rindu, juga menahan rasa rindu. Keinginannya untuk pulang ke rumah masih belum terealisasi karena segudang amanah yang sedang ia emban tak mengizinkan ia pulang.



Wanita belia itu melipat kedua kakinya dan mendekapnya erat-erat, lalu menidurkan kepalanya di atas lutut. Masih dengan tatapan rindu pada hujan di luar rumah. Ya, tatapan rindu. Rindu pada Bundanya, juga rindu pada masa kecilnya. Ia mengeluarkan jemari lentiknya ke luar jendela kamar. Lalu menampung tetesan-tetesan air langit. Sejuk, namun menusuk..

2 comments:

Unknown said... Reply Comment

anak kecil jauh lebih jujur dalam mengungkapkan pernyataan, keinginan yg mereka idamkan membuktikan sesuatu hal yg spontanitas.

Shaff and Summer said... Reply Comment

iye pula ye... :D