Saturday, 10 November 2018

Belajar Berani Berlayar

"Tring..!!" Sebuah notifikasi masuk ke handphone-ku.

"Jadi kau berencana kemana setelah ini?" Perempuan itu bertanya padaku, sebuah pertanyaan yang membuatku terhenyak. Beku seketika, sebab aku tak tahu jawabannya.

"Tring..!!" Handphone-ku berbunyi lagi. Notifikasi lagi, aku abai. Dalam sehari, ada ratusan notifikasi masuk, puluhan di antaranya sengaja ku-silent-kan agar bisa membantuku menjaga jarak dari perangkat itu.

"Entah." Jawabku atas tanya perempuan yang akrab denganku dan biasa kupanggil kakak itu.

"Masa entah, sih? Seorang kamu nggak punya plan setelah ini mau kemana? Nggak percaya." Dia membalasku dengan logat jawanya yang kental, wajahnya menyeringai, menatapku aneh.

Wednesday, 14 March 2018

Ada Yang Belum Gugur : Rindu


Hai, Mi. Apakabar? Aku tak mengerti kenapa rasanya begitu menggelikan sekaligus canggung mengucapkan pertanyaan itu (saat menulis itu aku sampai tertawa wkwk). Pertanyaan yang memang tak keluar dari bibirku, tapi kurasa cukup mengganggu kalau setiap pagi kudengar hatiku mempertanyakan hal yang sama—Mi, apa kabar? Mi, apa kabar? Dan bersama tulisan ini kurasa sudah hampir seratus kali hatiku aku bertanya. Entah radarku masih berfungsi entah tidak. :D

Mi, aku pulang. Musim gugur yang membawaku pulang ke sini. Udara Bayswater masih sama seperti dulu, nyaman. Sampai aku merasa tak harus pergi jauh lagi meninggalkan tempat ini, tinggal di kepulauan yang berjarak ribuan kilometer di sebelah Barat Laut sana—bersama orang-orang yang menikmati kehidupan di dunia nyata. 

Mi, aku pulang sebab rindu. Genap seminggu ini aku pulang—menikmati udara hangat, semilir angin dan sinar matahari setiap pagi (aku saaaangat sangat sangat menyukai matahari pagi di sini), dengan secangkir susu putih dan beberapa buku yang kurasa begitu menarik untuk dibaca di beranda rumah, sambil sesekali memandang danau kecil di depan rumah yang belum pernah mengering, atau Zoysia matrella yang terlihat begitu lembut untuk dijadikan tempat berguling-guling bagi anak-anak kucing tetangga.

Monday, 24 April 2017

Finding You




Akhirnya suratmu muncul lagi.

Hei, Cometchameleon, rasanya ingin melonjak karena begitu bahagia saat menemukan suratmu, tapi malah berpikir itu berlebihan—apalagi tengah malam saat semua mata di rumah telah terlelap. Akhirnya satu-satunya yang bisa kulakukan hanya menyudut di pintu dapur, tersenyum-meringis sendiri membaca suratmu, persis anak remaja yang sedang berbunga-bunga. Ingat baru saja kemarin aku menanyakan keadaanmu pada seorang wanita di seberang sana. Dia bilang kau baik-baik saja.

Bahagia ini tak sesederhana kelihatannya, Cham, sebab kemunculan suratmu jadi tanda bahwa radarku masih bisa diperbaiki. Kau tahu—berbulan-bulan belakangan ini aku sibuk bolak-balik dan berulang kali membuka kotak surat, berharap menemukan surat darimu. Tapi tak ada apapun kecuali beberapa semut yang berteduh karena cuaca yang memang begitu labil. Hampir putus asa, bahkan aku berpikir mungkin sudah saatnya aku menghubungimu pakai ponsel saja—seperti orang-orang zaman sekarang, modern, bukan pakai radar telepati antik ini. Tapi entah kenapa tak juga kulakukan, sekalipun—sama sekali tak kulakukan. Barangkali alam bawah sadarku masih punya keyakinan kalau radar yang biasa mengirimkan pesan ini hanya sedang koma, bukan mati.

Thursday, 12 January 2017

Pekat








"Aku ingin tidur. Biarkan aku tidur."

"Tidak. Kali ini saja. Kali ini saja. Kali ini saja. Jangan tidur, aku mohon."

"Esok aku ujian. Tak bisakah kau tunggu aku sampai selesai ujian? Tetaplah ada, jangan menghilang. Terbang saja, kesana-kemari, agar kau tetap terjaga dan tak hilang."

"Jangan tidur. Malam ini jangan tidur. Kali ini saja, Citra. Berdamailah denganku. Jangan tidur."


Demi masa—

Thursday, 4 August 2016

Nostalgique


Pada sebuah meja kau bercerita sendiri. Entahlah, barangkali bukan meja. Masih ada jendela yang terbuka lebar, menghisap seluruh gemuruh merdu ombak dari seberang sana dan menghembuskannya lembut ke dalam telingamu. Berderu, perlahan dan membekas di hatimu. Ombak pernah jadi salah satu definisi suara semesta termerdu bagi kita, dengannya kita bercerita tentang gundah, lalu membiarkan gemuruhnya menyeret dan menghempaskan kisah pahit itu ke laut sana. Dan gundah hilang. Yang ada hanya kita, dan tawa—hambar. Tapi kepalamu menunduk, memang bukan pada jendela kau bercerita, sepertinya. Sesuatu di atas meja, tapi apa?

Ada batas bernama sekat pada jantung—segumpal daging yang apabila ia baik, maka baik pula tutur-laku pemiliknya. Tapi sabarmu tak pernah punya batas, setahuku. Atau mungkin sabarmu mampu menembus sekat-sekat jantung hingga memenuhi seluruh ruang tanpa terkecuali—bahkan akhirnya menyebar ke seluruh tubuh. Jantungmu tak punya empat bilik yang memisahkan letak sabar, yang ku tahu. Sabarmu yang terkaya dan maafmu seluas semesta raya. Tak ada penat yang bisa hilang begitu saja, aku tahu. Dan kurasa kau sudah atau tengah berusaha tegar melalui proses pemakaman penat itu sendiri. Berbicara pada sesuatu di atas meja, seperti itu. Misalnya.